METANOIAC.id Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) mengembangkan inovasi berbasis bahan alam melalui penelitian berjudul “Phytolozenges Nanopartikel Ekstrak Curcuma mangga sebagai Terapi Alternatif Meminimalisir Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)” atau yang dikenal dengan PhytoNano.
Penelitian ini memanfaatkan potensi Curcuma mangga atau temu mangga yang mengandung senyawa bioaktif. Melalui penerapan teknologi nanopartikel, tim PhytoNano berupaya mengembangkan sediaan phytolozenges sebagai salah satu alternatif berbasis bahan alam yang dapat membantu meminimalkan GERD.
Penelitian dilaksanakan selama empat bulan di sejumlah laboratorium di Politeknik Negeri Ujung Pandang yang mendukung pelaksanaan penelitian. Kegiatan ini dilakukan oleh tim PhytoNano PKM-RE PNUP yang terdiri atas Nabilah Nurhijriyah sebagai ketua, serta Muhammad Rivandy, Rina Herviana, dan Nur Fadhillah sebagai anggota, di bawah bimbingan Dr. Andi Muhammad Iqbal Akbar Asfar, S.T., M.T. selaku dosen pendamping.
Rangkaian penelitian diawali dengan persiapan bahan dan pembuatan simplisia temu mangga. Bahan tersebut kemudian melalui proses ekstraksi menggunakan etanol 70 persen, dilanjutkan dengan pemekatan ekstrak. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk mengetahui karakteristik senyawa yang terkandung di dalam ekstrak.
Setelah tahap analisis, penelitian dilanjutkan dengan proses formulasi phytolozenges. Sediaan yang telah diformulasikan kemudian melalui sejumlah pengujian untuk mengetahui karakteristik dan kualitas sediaan yang dihasilkan.
Ketua tim PKM-RE PhytoNano, Nabilah Nurhijriyah, mengatakan bahwa penelitian tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk mengintegrasikan pengetahuan, inovasi, dan kerja sama dalam menghasilkan solusi berbasis bahan alam.
“Program PKM ini menjadi wadah bagi kami untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kerja sama tim dalam menghasilkan solusi atas permasalahan kesehatan yang nyata. Kami optimistis hasil penelitian ini dapat menjadi langkah awal pengembangan produk herbal berbasis teknologi yang memiliki nilai ilmiah sekaligus manfaat bagi masyarakat,” ujar Nabilah.
Sementara itu, salah satu anggota tim PhytoNano mengungkapkan bahwa proses penelitian memberikan pengalaman langsung kepada anggota dalam mengembangkan bahan alam menjadi sebuah inovasi.
“Selama penelitian ini, kami banyak belajar dari setiap proses yang dilakukan, mulai dari menyiapkan bahan, melakukan ekstraksi, sampai menganalisis ekstrak dan membuat phytolozenges. Jadi, kami tidak hanya mendapatkan hasil penelitian, tetapi juga pengalaman langsung dalam mengembangkan bahan alam menjadi sebuah inovasi,” ungkapnya.
Ke depan, tim berharap penelitian PhytoNano dapat terus dikembangkan melalui penelitian dan pengujian lanjutan. Phytolozenges yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut hingga memiliki potensi untuk diproduksi dan dipasarkan kepada masyarakat.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat menjadikan PhytoNano sebagai salah satu inovasi berbasis bahan alam yang memiliki nilai ilmiah dan berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya sebagai alternatif untuk membantu meminimalkan GERD. [SA/467]

