METANOIAC.id Seorang mahasiswi dari jurusan Teknik Sipil di Politeknik Negeri Ujung Pandang diduga menjadi korban penyalahgunaan identitas oleh sesama mahasiswa dari jurusan yang sama berinisial A.N.. Foto korban disebut digunakan untuk melakukan percakapan bernuansa seksual hingga meminta foto tidak senonoh kepada sejumlah mahasiswa dari berbagai jurusan.
Korban H mengaku pertama kali mengetahui kejadian tersebut setelah menerima informasi dari teman-temannya mengenai adanya pihak yang menggunakan foto dirinya untuk menghubungi mahasiswa lain, seperti ke mahasiswa laki-laki dari jurusan Teknik Mesin, Teknik Kimia dan AN.
“Awalnya ada yang bilang kalau ada yang chat mahasiswa lain pakai foto saya dan meminta foto bernuansa seksual,” ujar korban. Korban juga mengaku sempat menerima voice note dari seorang rekannya yang mempertanyakan keberadaan dirinya setelah beredar percakapan tidak pantas menggunakan identitas korban.
Mengetahui hal tersebut, korban kemudian mencoba menghubungi terduga pelaku secara baik-baik melalui chat. Namun, pada awalnya A.N. disebut tidak mengakui perbuatannya hingga korban memperlihatkan sejumlah bukti percakapan dan informasi dari teman-temannya.
Setelah bukti diperlihatkan, A.N. akhirnya mengakui perbuatannya. Kepada korban, ia berdalih bahwa tindakan tersebut dilakukan hanya untuk “mengetes orang”.
Namun alasan tersebut disayangkan oleh korban. Menurutnya, tindakan menggunakan identitas orang lain untuk melakukan percakapan seksual tetap tidak dapat dibenarkan. “Kalau memang mau tes orang, kenapa harus pakai foto orang lain? Dari situ saja sudah salah,” kata korban.
Korban juga mempertanyakan alasan penggunaan konten bernuansa seksual dalam aksi tersebut. Ia kemudian meminta terduga pelaku untuk menghubungi seluruh pihak yang sempat menerima pesan tersebut guna melakukan klarifikasi.
Meski sebelumnya telah ditegur, korban mengaku kembali menerima laporan serupa beberapa waktu lalu. Salah satu temannya menyebut ada mahasiswa lain yang kembali menerima chat tidak pantas menggunakan identitas korban.
Informasi tersebut juga mulai menyebar di sejumlah jurusan. Seorang teman korban mengaku sempat mendengar komentar dari mahasiswa lain yang mengaitkan korban dengan percakapan tidak pantas tersebut.
“Temanku sempat ditanya mahasiswa dari jurusan lain soal rumor itu. Tapi dijelaskanlah kalau identitasnya disalahgunakan oleh mahasiswa lain” ujar korban.
Menanggapi hal tersebut, korban mulai mengumpulkan bukti lagi bahwa identitasnya disalahgunakan. Tetapi korban juga mengaku memilih tetap fokus untuk tes Toefl dan menyelesaikan seminar proposalnya terlebih dahulu sambil tetap mengumpulkan bukti-bukti tambahan dari teman-temannya.
Tak sampai disitu, selain H, ada juga korban lain dengan inisial B yang mengalami hal serupa dengan H dengan pelaku yang sama. Mengetahui hal tersebut H bertemu dengan B yang juga korban yang akhirnya kasus ini dibawa ke lingkup himpunan mahasiswa Teknik Sipil.
Sementara itu, terduga pelaku diketahui telah mengunggah video klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya terkait persoalan tersebut.
Korban berharap tindakan serupa tidak kembali terjadi karena dapat merugikan korban secara pribadi maupun sosial, terutama ketika identitas seseorang digunakan tanpa izin untuk aktivitas yang mengandung unsur pelecehan maupun penyebaran rumor. [SA/467][VS/468]

