METANOIAC.id Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) rutin menggelar latihan tiga kali dalam seminggu, tepatnya setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kegiatan latihan ini biasanya berlangsung di Lapangan Tenis Kampus 1 pada sore hingga malam hari. Namun, pelaksanaan latihan kerap terganggu karena bentrok dengan agenda lain yang juga menggunakan lapangan tersebut.
“Latihan biasanya kami mulai sore hari. Kalau lapangan dipakai kegiatan lain, kami terpaksa menunggu dan latihan bisa molor hingga pukul delapan malam,” ujar NN, salah satu anggota UKM Karate.
Padahal, UKM Karate telah mengurus surat izin penggunaan lapangan secara rutin setiap tiga bulan sekali. Surat ini menjadi bukti resmi hak penggunaan lapangan oleh UKM. Sayangnya, meskipun sudah mengantongi izin, mereka tetap sering harus memperjuangkan hak penggunaan fasilitas tersebut.
“Kalau jadwal bentrok, kami biasanya menunjukkan surat izin sebagai bukti. Tapi kalau masih tidak digubris, kami langsung menghubungi pihak kemahasiswaan,” tambahnya.
UKM Karate bahkan pernah melaporkan situasi ini secara langsung kepada Wakil Direktur III dan bagian kemahasiswaan. Sebagai tindak lanjut, mereka kemudian diberikan kunci akses sendiri untuk membuka lapangan. Namun, hal itu belum sepenuhnya menyelesaikan masalah.
Dalam beberapa kasus, UKM Karate tetap harus mengalah, terutama jika lapangan digunakan oleh dosen yang hendak bermain tenis. Meskipun mereka telah memiliki izin, posisi mereka sebagai mahasiswa membuat mereka harus menyesuaikan diri.
“Kalau dosen yang main tenis, kami yang mengalah. Itu saran dari Wadir III agar kami menyesuaikan saja,” tutur NN.
UKM Karate berharap pihak kampus dapat memberikan perhatian dan kebijakan yang lebih berpihak pada kebutuhan mahasiswa. Mereka menilai bahwa lapangan tersebut merupakan salah satu fasilitas penting untuk menunjang kegiatan latihan dan persiapan menghadapi berbagai kejuaraan.
Bagi UKM Karate, lapangan tenis bukan sekadar tempat berlatih. Di situlah mereka membangun disiplin, kekompakan, dan mempersiapkan diri membawa nama baik kampus dalam kompetisi. Maka tak heran jika mereka berharap ada perhatian lebih dari pihak kampus.
“Kami berharap penggunaannya bisa lebih fleksibel dan diprioritaskan untuk kegiatan mahasiswa, apalagi yang berkaitan langsung dengan pengembangan prestasi,” tutupnya. [TPT/450]


