Di Balik Ramainya Pendakian, Festival “DNA Selatan Sulawesi” Ungkap Kerusakan Gunung Bawakaraeng

Metanoaic.id Festival “DNA Selatan Sulawesi” dengan tema What They Never Told You digelar pada 26–28 Agustus 2026 di Lapangan Bulu Tangkis Kampus 1 Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). Kegiatan ini mengangkat isu kerusakan Gunung Bawakaraeng yang dinilai semakin terdampak oleh meningkatnya aktivitas pendakian.

Festival tersebut merupakan kolaborasi FISS, MAPALA PNUP, WIRPALA Politeknik Pertanian Negeri Pangkep, EQUILIBRIUM FEB UNHAS, dan BUMI TOALA INDONESIA. Sejumlah rangkaian kegiatan dihadirkan, seperti sesi tanya jawab (QnA), ekshibisi foto dan maket, lapak baca, serta pojok kuliner dan merchandise.

Ketua MAPALA PNUP sekaligus salah seorang penanggung jawab kegiatan, Ahmad Ikram, mengatakan kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi Gunung Bawakaraeng yang semakin banyak mengalami kerusakan seiring meningkatnya jumlah pendaki.

Menurutnya, salah satu hal yang menjadi perhatian ialah aktivitas open trip. Tidak semua pendaki yang mengikuti kegiatan tersebut memahami dampak aktivitas mereka terhadap kondisi gunung, termasuk tekanan yang diberikan terhadap lingkungan.

“Banyak pendaki yang ikut open trip dan mereka tidak tahu apa dampak dari open trip itu, tidak tahu berapa tekanan yang mereka berikan kepada gunung,” ujar Ahmad Ikram.

Selain itu, Ikram menyebutkan bahwa isu mengenai Gunung Bawakaraeng sebelumnya banyak diperbincangkan melalui media sosial. Namun, sejumlah pertanyaan yang muncul sulit dijawab secara menyeluruh karena adanya berbagai pandangan, baik pro maupun kontra.

“Banyak postingan di media sosial tentang Bawakaraeng. Ada pertanyaan-pertanyaan yang susah dijawab di media sosial karena ada pro dan kontra. Makanya diadakan kegiatan ini supaya memudahkan menjawab semua pertanyaan itu dalam forum,” jelasnya.

Festival “DNA Selatan Sulawesi” berlangsung selama tiga hari dengan pembahasan yang berfokus pada berbagai persoalan mengenai Gunung Bawakaraeng. Pada hari pertama, kegiatan menghadirkan Nevy Jamest sebagai pemateri. Sementara itu, pembahasan pada hari kedua akan lebih berfokus pada persoalan kerusakan yang terjadi di Gunung Bawakaraeng.

Baca Juga:  17 Tahun Kematian Munir, Simpul Pelapak Jalanan Gelar Aksi Diam, Lapakan Gratis, Dan Doa Bersama

Kegiatan ini terbuka bagi peserta dari berbagai kalangan dan daerah. Melalui forum tersebut, penyelenggara berharap peserta tidak hanya memperoleh informasi mengenai kondisi Bawakaraeng, tetapi juga memahami dampak dari aktivitas pendakian terhadap kelestarian gunung.

Ikram berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut, khususnya di lingkungan mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang. Menurutnya, edukasi melalui diskusi dan kegiatan seperti ini dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian Gunung Bawakaraeng.

“Harapannya kegiatan ini terus berlanjut, khususnya bagi teman-teman Politeknik, dan bisa mencegah kerusakan Gunung Bawakaraeng dengan materi yang diberikan,” ujar Ikram. [SA/467][FT/470]

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

| METANOAIC | Torehan Tinta Pergerakan |                          | METANOAIC | Torehan Tinta Pergerakan |                          | METANOAIC | Torehan Tinta Pergerakan |

BERITA TERBARU