METANOIAC.id Tahun ini, Learning Express (LeX) 2025 kembali akan dilaksanakan pada 29 September – 10 Oktober 2025 di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). Setiap jurusan berhak mengirimkan maksimal 10 mahasiswa terbaik untuk bergabung. Dengan semangat kolaborasi dan kontribusi nyata, program ini diharapkan kembali memberikan pengalaman berkesan bagi para peserta.
LeX merupakan program kolaborasi internasional antara PNUP dan Singapore Polytechnic yang bertujuan mengasah keterampilan berpikir kreatif, kolaboratif, empati, dan inovatif mahasiswa dalam memecahkan tantangan nyata di masyarakat.
Program ini sebelumnya telah sukses dilaksanakan pada 30 September – 12 Oktober 2024 di Makassar dan Kabupaten Gowa. Para peserta terjun langsung dalam proyek berbasis komunitas, mulai dari wawancara, observasi, merancang ide, mencari solusi dan membuat prototype bagi UMKM dan masyarakat setempat.
Salah satu peserta, Muhammad Ikhsan, menggambarkan pengalamannya hanya dengan dua kata “Luar Biasa.” Ia menuturkan bahwa LeX bukan sekadar proyek lapangan, melainkan wadah pembelajaran yang menyenangkan dan penuh kesan.
Menurutnya, kegiatan ini mengajarkan bagaimana ilmu kampus, khususnya desain algoritma sebagai pendekatan humanis dan berbasis masalah aktual yang dapat diterapkan langsung untuk membantu masyarakat, interaksi lintas budaya dengan mahasiswa Singapore Polytechnic juga memperkuat hubungan pertemanan melalui kerja kelompok dan aktivitas sehari-hari.
“LeX benar-benar membuka wawasan baru tentang manfaat ilmu bagi masyarakat, sekaligus memberi kesempatan untuk belajar budaya dan cara berpikir yang berbeda,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ng Ye Zhe, peserta dari Singapore Polytechnic, juga menyampaikan kesannya. Ia menyebut bahwa LeX menjadi pengalaman yang sangat berkesan karena mempertemukannya dengan mahasiswa PNUP yang penuh kreativitas.
“The most memorable moments are definitely when my buddy made a daily vlog, showing our daily progress as well as exchanging language and laughter. The program also gave me a new perspective on how PNUP students would think of a solution and work with the resources they had,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa keterampilan yang ia pelajari bersama PNUP masih terus ia terapkan, baik di sekolah maupun di luar kampus.

Reuben Haruaki Kobayashi, peserta dari Singapore Polytechnic. Ia menyebut bahwa LeX di PNUP menjadi pengalaman yang membuka wawasan karena selama dua minggu di Indonesia ia merasakan kehidupan yang berbeda sekaligus melihat bagaimana politeknik di Indonesia dan Singapura memiliki kesamaan maupun perbedaan. Baginya, momen paling berkesan adalah saat homestay di Malino, yang membuatnya lebih dekat dengan mahasiswa PNUP.
“My most memorable moment would definitely be the homestay part of the trip in Malino, it was an opportunity to better connect with the students of PNUP compared to at PNUP,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa program ini mengubah pandangannya tentang Indonesia. Sebagai seseorang yang jarang bepergian dan tidak banyak terekspos budaya lain, Haruaki mengaku lebih menghargai budaya, cara hidup masyarakat setempat, hingga fasilitas kampus PNUP yang menurutnya serupa dengan politeknik di Singapura.
“Yes, as a person who rarely travels and is not exposed to different cultures, the LEX trip has changed my perspective on Indonesia and allowed me to appreciate many things such as the culture and way of living in Malino to the campus of PNUP and the similar facilities to our own polytechnic,” tambahnya

Dengan berbagai pengalaman berkesan yang telah dirasakan peserta sebelumnya, Learning Express (LeX) 2025 di PNUP diharapkan tidak hanya mempererat persahabatan lintas budaya, tetapi juga melahirkan solusi nyata bagi masyarakat. Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi internasional mampu membuka wawasan baru, memperkaya cara berpikir, dan meneguhkan komitmen mahasiswa sebagai agen perubahan di masa depan. [NDA/445]


