Metanoiac.id Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda meningkat drastis sejak Jumat (4/9) malam. Erupsi menerus yang disertai pancaran lava pijar, suara dentuman, gemuruh, hingga sebaran abu vulkanik membuat warga di sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung kembali diliputi kekhawatiran. Trauma tsunami Selat Sunda pada 2018 menjadi salah satu alasan warga memilih meningkatkan kewaspadaan dan bersiap mengungsi apabila kondisi memburuk.
Gunung Anak Krakatau mulai mengalami erupsi menerus pada Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB. Berdasarkan pemantauan PVMBG, episode erupsi tersebut berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Selama periode tersebut, aktivitas vulkanik menunjukkan intensitas tinggi dengan pancaran lava atau lava fountain.
PVMBG mencatat gempa erupsi dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter dan durasi sekitar 21.600 detik. Aktivitas tersebut disebut sebagai episode erupsi dengan intensitas tertinggi yang tercatat sepanjang 2026 hingga saat itu. Setelah episode erupsi menerus berakhir, masih terjadi erupsi susulan bertipe Strombolian pada Minggu sekitar pukul 03.53 WIB selama kurang lebih 30 detik.Â
Warga Pesisir Kembali Terbayang Tsunami 2018
Peningkatan aktivitas Anak Krakatau dengan cepat memunculkan kembali ingatan warga pesisir terhadap bencana tsunami Selat Sunda pada Desember 2018. Di kawasan Labuan dan Carita, Kabupaten Pandeglang, sejumlah warga memilih bersiap mengungsi sebagai langkah antisipasi.
Kekhawatiran terutama dirasakan oleh warga yang memiliki anak kecil dan tinggal tidak jauh dari garis pantai. Mereka mengaku terus memantau kondisi laut karena masih menyimpan trauma terhadap tsunami yang terjadi akibat longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau pada 2018.
Rasa cemas juga muncul setelah warga merasakan getaran dan mendengar suara dentuman dari arah Selat Sunda. Di sejumlah wilayah Banten, suara gemuruh tersebut terdengar berulang dan membuat sebagian masyarakat mendatangi pos pemantauan gunung api untuk mendapatkan informasi langsung dari petugas.
Namun, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mengaitkan erupsi saat ini dengan potensi tsunami seperti yang terjadi pada 2018.
PVMBG memastikan aktivitas erupsi saat ini tidak berpotensi memicu tsunami. Evaluasi PVMBG menyebut tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil sehingga tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.Â
BMKG Pastikan Belum Ada Anomali Muka Air Laut
Kekhawatiran terbesar warga pesisir adalah kemungkinan terjadinya tsunami. Namun, berdasarkan pemantauan BMKG hingga Minggu pukul 07.00 WIB, 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut. BMKG juga menyebut tinggi gelombang laut masih berada di kisaran satu meter dan probabilitas tsunami berdasarkan pemantauan saat itu berada pada tingkat rendah.Meski demikian, BMKG tetap mengintensifkan pemantauan selama 24 jam terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk kondisi atmosfer, laut, serta kemungkinan dampak terhadap penerbangan.
Status Masih Siaga, Warga Diminta Tidak Mendekat
PVMBG hingga Minggu masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawasan gunung dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas.
Presiden Prabowo Subianto juga mengimbau masyarakat di Jakarta, Banten, Lampung, dan kawasan sekitar Selat Sunda untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, mengikuti arahan pemerintah, serta mematuhi zona bahaya yang telah ditetapkan.
Di tengah trauma tsunami 2018 dan meningkatnya aktivitas vulkanik, masyarakat pesisir kini berada dalam situasi waspada. Namun, pemerintah menegaskan bahwa kewaspadaan perlu dilakukan berdasarkan informasi resmi, bukan kepanikan atau kabar yang belum terverifikasi. [JES/453]

