Sebuah Refleksi "Pendidikan yang Membebaskan"

Ilustrasi. Ilustrasi di suatu kampus sekumpulan orang sedang berdampingan membangun ruang diskusi yang bebas berekspresi. [Sumber: Instagram @sekilassejarah]

METANOIAC.id Mengapa pendidikan mesti linier? Mengapa semakin ahli kita dalam satu bidang ilmu, semakin awam kita terhadap bidang-bidang ilmu lainnya? Ini adalah potret tata kelola pendidikan yang menempatkan edukasi dalam bingkai industrialisasi; link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri. Tata kelola ini mendorong lahirnya orang-orang dengan cara pandang yang tersekat-sekat.

Lalu adakah model pendidikan di mana perkembangan pengetahuan diukur justru dari wawasan kita atas berbagai bidang ilmu?

[Baca juga: Ironi Perguruan Tinggi]

Dahulu kala model seperti itu kita temukan dalam visi tentang manusia Renaissance, yakni visi yang melahirkan intelektual-seniman serba bisa seperti Leonardo Da Vinci, akademisi lintas disiplin seperti Descartes, Leibniz, Kant, serta para filsuf zaman modern. 

Visi manusia Renaissance inilah yang juga ditekankan Ki Hajar Dewantara dengan konsep pendidikan sebagai "Olah pikir, olah rasa, olah karsa" suatu model pendidikan holistik yang non-linear. Pada tulisan ini, saya akan menjabarkan mengapa kita perlu kembali pada model pendidikan lintas-disiplin seperti itu.

Dalam dunia pendidikan modern kita mengenal ide tentang linieritas yaitu bahwa pendidikan itu seyogyanya dijalankan menuju ke arah spesialisasi dari yang semula sifatnya umum naik jenjang lebih tinggi. Kita menjadi lebih khusus, pengetahuan kita lebih spesialis. Nah,  saya akan menunjukkan bahwa argumen atau ide semacam itu sebetulnya sangat keliru.

Filsafat pendidikan hanya menekankan bahwa linearitas sebetulnya dilandasi oleh suatu asumsi tentang industrialisasi pendidikan. Ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai "Hilirisasi Pendidikan" yaitu, pendidikan harusnya lebih tersambung dengan kepentingan yang nantinya akan dibutuhkan di dunia kerja, khususnya di dunia industri. Jadi, apa yang lebih ditekankan adalah mengenai link and match yaitu kecocokan antara jasa yang dihasilkan.

Dalam hal ini berarti kompetensi dan seterusnya dengan jasa yang dibutuhkan oleh dunia industri. Ketika keduanya itu tersambung maka kita akan memperoleh link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri. Tapi, itu adalah hal yang menyempitkan pengertian pendidikan yang sebenarnya. 

Pendidikan bukan hanya sekadar membuat kita memiliki suatu keahlian atau kecakapan teknis untuk mengerjakan sesuatu, bukan pula semata urusan pemerolehan skill, pemerolehan kemampuan, atau kecakapan teknis.  Tetapi jauh lebih mendasar pada kesadaran untuk bersikap terhadap dunia ini. Memiliki sikap dan pemikiran sendiri, bisa merasakan sesuatu yang ada di luar, berempati pada dunia di sekeliling kita,  serta bisa mengarahkan tindakan kita kepada tujuan yang bermanfaat bagi masyarakat umum. 

Jadi, ada dimensi-dimensi yang hilang ketika pendidikan itu hanya dirangkai atau dipersepsi dalam rangka kesesuaian dengan kebutuhan industri atau kebutuhan lapangan kerja.

Kita mungkin perlu belajar lagi dari sejarah pendidikan; konsepsi pendidikan yang berkembang di dunia, salah satunya adalah pada konsep manusia Renaissance. Kita tahu bahwa zaman Renaissance adalah suatu periode di mana intelektualitas melonjak demikian tinggi di Eropa pada abad ke 15 hingga 16 yang memungkinkan peralihan yang sangat cepat dari tradisi abad pertengahan ke masa pencerahan dan modernitas.

Ciri khas dari manusia Renaissance atau manusia yang hidup atau intelektual yang hidup pada era itu adalah jenis intelektual serba bisa. Mereka itu adalah pelukis, arsitek, ahli matematika, ahli fisika, politik, penemu, seperti misalnya Leonardo Da Vinci yang menemukan mesin terbang, anemometer, dan seterusnya.

Orang yang hidup atau mengembangkan suatu model pendekatan Renaissance itu sebetulnya orang yang mempelajari segala macam aspek dari hidup ini, tidak hanya satu segi saja tetapi semuanya, bukan hanya berpikir tentang dunia tetapi juga merasakan dunia. Karena mereka bukan hanya teoritis atau ahli dalam bidang ilmu-ilmu dalam pengertian sains tetapi juga mereka adalah seniman mereka merasakan secara langsung dunia ini mengolah bagaimana rasa itu bisa di artikulasikan untuk menghasilkan efek-efek artistik tertentu. Jadi, cara mereka menghidupi dunia ini begitu lengkap; menangkap dari semua sisinya.

Konsepsi manusia Renaissance ini memang muncul pada suatu masa ketika pembelahan atau pembeda antar cabang-cabang ilmu itu belum ada. Belum dikenal ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kriminologi, ilmu filsafat, dan berbagai cabang ilmu lainnya. 

Semua itu menjadi satu bagian dari apa yang disebut sebagai philosophia atau filsafat dalam pengertian yang umum. Karena tidak ada sekat antara cabang-cabang ilmu sehingga mereka bebas berkelana ke mana saja secara pemikiran dan perasaan sehingga mereka bisa menghadirkan suatu potret yang sifatnya komprehensif tentang dunia dan merangkul semua unsur cabang ilmu dari dunia ini tanpa dikecualikan satu sama lain.

Banyak sekali pemikir modern awal sekitar abad ke-17 yang masih mewarisi tradisi pemikiran Renaissance ini, seperti Rene Descartes, ia seorang filsuf, ahli dalam hal fisika juga ahli dalam hal matematika dan seterusnya. Lalu ada Gottfriend Leibniz di abad ke-18 awal, juga punya kecenderungan yang sama, dia bisa mendalami berbagai macam isu mulai dari biologi, strategi militer sampai ilmu tentang cara menghitung undian dan matematika tentang di balik probabilitas, dan seterusnya dia juga mempelajari itu. Jadi, begitu banyak sebetulnya keahlian mereka.

Konsep tentang keahlian sebagai spesialisasi belum ada di zaman itu. Orang yang disebut ahli adalah orang yang bijaksana, orang yang bijaksana itu adalah orang yang bisa mengetahui berbagai macam aspek dari kenyataan bukan orang yang tahu segala sesuatu dengan dia bisa merasakan segala sesuatu itu, bisa tahu prinsip-prinsip pokoknya seperti apa dan karenanya bisa mencari cara untuk tahu tentang berbagai macam hal itu. 

Model manusia Renaissance ini perlahan-lahan lenyap ketika ilmu-ilmu semakin terspesialisasi satu sama lain, orang belajar ke arah masing-masing dan dengan perkembangan abad ke-20 spesialisasi itu semakin menjadi. Bahkan jika kita bicara jurnal misalnya akreditasi untuk jurnal itu akan semakin tinggi kalau semakin spesifik sifatnya. 

Misalnya, tidak cukup hanya jurnal biologi dia harus lebih spesifik lagi misalnya meneliti tentang jamur, satu spesies jamur kalau bisa lebih spesifik lagi malah semakin tinggi akreditasi nya. Jadi, ini adalah suatu pola pikir yang menghormati spesialisasi ketimbang generalisasi dan ini adalah pola pikir yang di baliknya kita bisa menduga ada kepentingan tadi (keterkaitan dengan industri).

Sedangkan pada masa Renaissance kesadaran tentang industri dalam pengertian yang spesialisasi itu belum ada, tapi relevansi dari konsep pendidikan manusia Renaissance ini tidak hilang karena gagasan dasarnya masih bisa kita pertahankan. Intinya adalah bahwa seseorang dilatih atau belajar untuk menjadi manusia dalam arti seutuhnya, bukan manusia yang parsial; manusia yang hanya ahli di bidang satu varietas jamur yang keseluruhan hidupnya didefinisikan oleh satu varietas jamur yang ia teliti.

Maka dibutuhkan adalah manusia yang bisa mengapresiasi berbagai macam aspek dari hidup ini. Serta mempunyai kesadaran bahwa segala hal ini menarik untuk dipelajari, bahwa kita tidak hanya fokus pada satu bidang yang sangat spesifik tetapi kita juga membuka ruang pada eksplorasi yang sifatnya lintas disiplin seperti itu, dan itu yang sebetulnya hilang ketika kita bicara tentang linieritas di dalam pendidikan, dan filsafat pendidikan kita rasanya juga perlu kita reorientasi.

Hal ini bukan sekedar meniru satu model pendekatan pendidikan barat (Renaissance) dan eropa. Sebab, dalam falsafah pendidikan indonesia muncul seorang seperti Ki Hajar Dewantara yang juga menekankan bahwa pendidikan itu bukan sekedar masalah olah pikir, tapi juga olah rasa dan olah karsa (olah kehendak). 

Bagaimana ketiganya itu menyatu di dalam proses pendidikan, itulah yang lebih penting dengan kata lain falsafah pendidikan Ki Hajar Dewantara adalah suatu model pendidikan yang holistik yang mengedepankan manusia sebagai satu keutuhan. Keutuhan pengalaman manusia dimulai dari pengalaman artistik, kognitif, pengalaman dalam hal emosi dan kesemuanya itu menyatu dalam apa yang disebut pengalaman manusia itu.

Kita tidak perlu membeda-bedakan bahwa Renaissance itu barat, sedangkan Ki Hajar Dewantara dari indonesia. Keduanya ini memiliki korespondensi satu sama lain dan menghendaki hal yang serupa dan inilah yang selama puluhan tahun di era modern sedang tergerus dengan arah pada spesialisasi tadi, kita perlu mengembalikan lagi suatu kesadaran bahwa pendidikan itu adalah untuk membentuk manusia seutuhnya, memungkinkan orang untuk mengalami berbagai macam aspek hidup secara lebih leluasa, menyikapi hidup dari sudut pandang yang berbeda.

Hasilnya, jika itu bisa diwujudkan maka suatu model manusia yang lebih terbuka, model pendidikan atau peserta didik yang cara pandangnya itu tidak kaku. Tidak harus A atau harus B, tetapi memiliki kebebasan atau kelonggaran untuk menimbang dan mengambil kesimpulan yang berbeda dan itu adalah hal-hal yang sangat berharga dalam filsafat pendidikan kita. Jikalau itu bisa menjadi arus utama, tentunya akan menjadi suatu perubahan yang sangat fundamental di dalam cara kita berpikir sebagai bangsa. [CAN/377]

Posting Komentar

0 Komentar