Walau Dilanda Kebakaran, Perjuangan Warga Bara-baraya Tak akan Pernah Padam

Penampilan. Warga Bara-baraya dan kawan-kawan yang bersolidaritas sedang menyaksikan penampilan musik di Bara-baraya pada Minggu (8/5). [Sumber: Instagram @adelouriyandi]

METANOIAC.id Bara-baraya adalah salah satu episentrum bagi gerakan sosial di Makassar untuk afirmasi. Sudah hampir genap 6 tahun lamanya warga Bara-Baraya berjuang menolak upaya penggusuran rumah demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Tertanggal 30 Maret 2022, kabar buruk menghampiri upaya perjuangan mereka yang di mana beberapa rumah warga yang masuk dalam wilayah ancaman penggusuran baru saja mengalami “kebakaran”.

Tekad dan kegigihan perlawanan warga yang tak kunjung surut tentu membuat sang aktor lapangan pihak lawan semakin terdesak. Tanah eks asrama TNI seluas 20.000 m2 yang telah mereka gusur sejak tahun 2016 tidak dapat dikembangkan menjadi kawasan permukiman modern sebab tidak ada akses memadai dari jalan poros Abubakar Lambogo karena ada pemukiman warga. 

Modal dan uang yang telah mereka keluarkan selama ini mengerahkan aparat, ganti rugi tanah eks asrama TNI, biaya pengadilan untuk dua kali gugatan, pengacara, biaya-biaya tidak resmi dan lain-lain habis begitu saja tanpa ada tanda-tanda rencana investasi mereka akan segera terwujud.

Karenanya, warga menganggap kebakaran menjadi alternatif akhir untuk menggusur warga dari pada bergulir kembali ke pengadilan yang akan memakan waktu lama dengan musibah kebakaran yang melanda, rumah yang tinggal puing-puing, harta benda yang hangus menjadi onggokan abu, bernegosiasi dan mengambil kerohiman adalah solusi paling logis dari semua pengorbanan dan kesulitan hidup warga korban dibanding melanjutkan upaya Pengajuan Kembali (PK) yang bahkan uang yang telah disiapkan warga untuk upaya hukum itu telah turut terbakar.

Akan tetapi warga bergeming, api keserakahan yang berkobar di Bara-Baraya hanya mampu menghanguskan rumah dan harta benda warga, tetapi sama sekali tidak dapat menyentuh semangat dan tekad warga yang berjuang mempertahankan hak atas tanah dan ruang hidup mereka.

Selain proses advokasi, aktivasi ruang adalah gerakan politik yang tidak hanya menuntut hak atas tanah, rumah atau tempat tinggal tetapi juga gerakan penduduknya; sebuah gerakan perkotaan mempertahankan ruang hidup alternatif. Seperti salah satu agenda solidaritas yang baru ini digelar oleh warga yaitu, “Festival Anti Penggusuran”.

Agenda solidaritas ini merupakan bukti bahwa dalam kelam perampasan ruang hidup ada bara yang selalu menyala, ia selalu terawat dalam semangat untuk amunisi yang akan terus dirajut, karena perang ini akan terus berlanjut. Solidaritas yang berdatangan selalu menjadi pemandangan yang paling tegas pada tiap aktivitas dalam melawan penggusuran.

Terima kasih kepada kalian yang memberi sedikit perhatian ke warga untuk tetap bertahan hidup sekaligus mempertahankan simpul perjuangan menolak penggusuran. [CAN/377]

Posting Komentar

0 Komentar