Siasat Heteronom dalam Berlembaga

[Sumber: Yoyo Adiguna]

“Para mahasiswa sejauh ini sebagaimana saat ini, mendefinisikan diri mereka sendiri dengan sebuah nilai palsu yang menghalangi mereka untuk sadar akan kekurangannya dan hasilnya mereka tetap berada di puncak kesadaran palsu. Tetapi di manapun juga, di mana masyarakat modern mulai diserang, anak-anak muda selalu mengambil bagian dalam penyerangan ini; dan pemberontakan ini merepresentasikan sebuah kritik yang langsung dan tak tanggung-tanggung atas kebiasaan mahasiswa.” Mustapha Khayati (Situationist International) dan mahasiswa-mahasiswa di Strasbourg, November 1966.

Mahasiswa mau tak mau harus mengamini bahwa lembaga kemahasiswaan adalah layaknya miniatur cacat dari negara yang setidaknya walaupun lembaga-lembaganya tak selengkap layaknya negara, tetapi tetap bersifat permanen, sentralistik, dan mereproduksi watak negara yang selalu berusaha menjaga status quo.

Eksistensi lembaga kemahasiswaan tidaklah lebih dari upaya pereduksian potensi individu-individu mahasiswa, pengalienasian mahasiswa dari masalah sosialnya, separasi mahasiswa dari lingkungan sosialnya, dan reproduksi dari relasi sosial yang diproduksi oleh negara dan kapitalisme. 


Apa yang diharapkan dari sekumpulan mahasiswa yang hanya memikirkan untuk menghabiskan dana kemahasiswaan dari kampus? Apa yang harus disegani dari para pengecut yang bermental budak?


Bahkan yang menjadi kekeliruan ialah, lembaga-lembaga kemahasiswaan di PNUP terlalu suci untuk menyaring deretan wacana-wacana kritis yang seharusnya menjadi gizi dan nutrisinya. 


Sungguh ruang kewarasan yang sangat sempit di tengah luasnya peradaban yang pelan-pelan semakin mengeksploitasi akal sehat. Jika terus seperti ini, maka budaya berpikir yang dipresentasi Karlina Supelli, adalah "terjebak di antara mono dan polikromatik, masyarakat prismatik".


Sederet lembaga kemahasiswaan di PNUP, sangat sedikit dan hampir tidak ada secara organisasi maupun individu yang mampu menyiratkan perspektif independen, kritis, dan terbuka sebagai budaya dalam kehidupan kampus. Sangat boleh dikatakan keberhasilan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) secara historis mencapai dominasinya dalam sipil akademik PNUP yang terbilang masih belia.


Dalam hal ini, etos yang melekat dalam struktur politik kelembagaan tidak lain hanyalah etos yang dikembangkan sejauh meningkatkan fungsi kekuasaan, sebaliknya etos kritis terhadap tanggung jawab publik tidak diberikan tempat.


Mengamati cuaca kultural pada masyarakat akademik PNUP saat ini, kalian akan menemukan seonggok masyarakat prismatik, masyarakat tradisional (monokromatik) yang hidup dalam manufaktur industrial modern (polikromatik). Di mana kebudayaan yang berkembang hanya sebagai aspek perayaan gaya hidup yang dikemas dengan prinsip formalisme; loyalitas tetapi tidak kompeten, bukan sebagai aspek berpikir.


Seperti halnya berlembaga, mereka hanya menerima lembaga sebagai aspek identitas atau seremonial, tidak sebagai aspek gagasan.


Tentu saja kekeliruan strategi budaya yang berpengaruh terhadap cara berpikir ini dibangun dan ditanggung oleh masyarakat itu sendiri. Jika matra ini tetap linier, maka terus terang pola pikir progresif sulit mendapatkan tanah yang subur untuk tumbuh, kecuali secara otonom, jika tidak bersiaplah hidup dalam siasat heteronom.


Penulis: Yoyo Adiguna

Posting Komentar

0 Komentar