Konflik Kesehatan Mental, Film "Kukira Kau Rumah" Tembus 300.000 Penonton dalam 2 Hari Penayangan

Sumber: imdb.com

METANOIAC.id "Namanya Niskala. Seperti magnet pada umumnya, kala hanya bisa menarik dan aku tak kuasa untuk tidak tertarik". -Pram

Film "Kukira Kau Rumah" yang rilis sejak tanggal 3 Februari 2022 di seluruh bioskop Tanah Air. Film ini  mendapat dukungan yang sangat luar biasa dari para penonton, tidak hanya dari kalangan muda-mudi bahkan kalangan orang tua pun terlihat antusias dalam penayangan film tersebut.


Memasuki dua hari penayangan, film ini telah mencapai angka 300.000 penonton, hal ini merupakan sebuah rekor penayangan semenjak masa pandemi.


Dalam debut pertamanya sebagai sutradara, Umay Shahab berhasil membawakan konflik penyakit bipolar ke dalam sebuah roman yang sangat relevan dan menohok hati dengan mengungkapkan pesan tentang kesehatan mental yang kini banyak di bicarakan tapi tetap di pinggirkan. 


Dibintangi oleh Aktris cantik Prilly Latuconsina sebagai Niskala, merupakan seorang pengidap bipolar serta sisi lain dari perspektif orang dengan gangguan mental dan lingkungannya.


Selain Prilly, Aktor Jourdy Pranata juga ikut berperan sebagai Pram, Shenina Cinnamon sebagai Dinda, dan Raim Laode sebagai Oktavianus. 


Mereka berhasil menawarkan drama dengan permainan emosi yang naik turun dan secara mengejutkan mengangkat masalah mental secara totalitas.


Film berdurasi 1 jam 30 menit ini menceritakan, seorang gadis bernama Niskala yang mengidap penyakit bipolar dan memiliki masalah di kehidupan sosialnya. Ia kemudian bertemu dengan seorang pemuda bernama Pram yang kerap merasa kesepian semenjak ayahnya meninggal dan ibunya sibuk bekerja.

Di tengah rasa kesepiannya itu ia mencoba menulis lagu, namun ia tidak pernah mengenalkan karyanya itu kepada siapapun. Pram yang memiliki bakat bernyanyi, kemudian memutuskan untuk bekerja di sebuah kafe.


Hingga akhirnya ia bertemu dengan Niskala. Awalnya Pram tidak mengetahui bahwa gadis cantik itu mengidap bipolar yang sewaktu-waktu bisa mengalami perubahan suasana hati. Keduanya kemudian menjalin hubungan yang sangat dekat.

Niskala ternyata diam-diam mendaftarkan diri untuk kuliah. Ia tidak ingin keluarganya tahu, terutama ayahnya. Niskala ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa dia bisa berprestasi meskipun kondisinya tidak normal.


Kehidupan Niskala berubah drastis setelah kenal Pram. Gadis itu sering kali melanggar peraturan dan janji yang telah dibuat dengan sang ibu dan sahabatnya. Kehadiran Niskala membuat Pram menjadi lebih bersemangat. Niskala mampu mengisi hari-hari Pram yang sepi.


Hingga berdampak pada karier bermusiknya, bahkan duetnya dengan Niskala mendapat apresiasi yang cukup banyak. Seiring berjalanya waktu, akhirnya Pram mengetahui Niskala mengidap bipolar. Ia juga mengetahui permasalahan Niskala dengan ayahnya yang selalu protektif dan melarang Niskala untuk bersosialisasi.


Kelebihan


Para pemain berhasil menawarkan drama dengan permainan emosi yang naik turun dan secara mengejutkan mengangkat masalah mental secara totalitas. Soundtrack dari filmnya juga easy listening. Serta storyline yang sangat mengedukasi sehingga pemikiran masyarakat menjadi lebih terbuka dan orang-orang menjadi paham akan kebutuhan pengidap mental illnes.


Kekurangan


Mengangkat isu mental, film ini cenderung mengarah kepada kisah cinta yang tidak direstui oleh orang tua dan teman-temannya sehingga isu mental yang disajikan tidak terlalu dalam. Juga tempo yang terlalu cepat dan melompat-lompat. Serta komposisi pencahayaan di beberapa scene yang kurang mendukung atau terlihat terlalu gelap.


Kesimpulan


Film yang bergenre drama psikologis yang merupakan adaptasi dari lagu berjudul sama dengan film tersebut karya Amigdala, mengandung pesan moral tentang bagaimana seharusnya kita memperlakukan seseorang dengan gangguan mental untuk mendapatkan segala hal yang suportif. [ADD/370]


Posting Komentar

0 Komentar