The Post: Idealis dan Gigih dalam Menegakkan Prinsip Jurnalisme


Sumber: id.m.wikipedia.org

METANOIAC.id Diawali dengan pertempuran antara Amerika Serikat dan Vietnam pada tahun 1966, yang didokumentasikan oleh Daniel Ellsberg selaku analis militer Departemen Luar Negeri. Daniel bertugas mendokumentasikan perkembangan kegiatan perang militer Amerika Serikat di wilayah tersebut untuk diserahkan ke Robert McNamar selaku Menteri Pertahanan Amerika. Melihat keadaan yang bertambah buruk, Robert memberitahu Daniel dan William Macomber tentang pandangannya bahwa sudah tidak ada lagi harapan untuk perang ini, tetapi setelah mendarat Robert menjelaskan kepada media bahwa ia optimis bahwa Amerika akan memenangkan perang melawan Vietnam. 

Daniel yang mendengarnya tentu merasa kecewa dengan apa yang disampaikan oleh Robert. Ia lalu mencuri beberapa dokumen rahasia pemerintah yang berisi laporan perang antara Amerika dan Vietnam. Dokumen ini disebut dengan Pentagon Papers yang didalamnya menyatakan bahwa Amerika sejatinya tidak memiliki kans untuk dapat berjaya dalam perang melawan Vietnam. Kemudian bersama kedua temannya, Daniel menyalin dokumen rahasia itu dan memotong bagian paling bawah halaman di mana terdapat tulisan ”sangat rahasia”.

Daniel Ellsberg kemudian memberikan dokumen tersebut kepada Neil Sheenan, salah seorang jurnalis dari The New York Times. The New York Times merupakan media yang pertama kali memublikasikan salah satu isi dari Pentagon Papers dan langsung menyita perhatian publik, termasuk Istana Kepresidenan Amerika Serikat. Publik heboh dan merasa bahwa mereka telah ditipu oleh negaranya. Presiden Richard Nixon yang menjabat saat itu marah besar dan menuntut The New York Times ke pengadilan. The New York Times akhirnya dilarang memublikasikan lebih jauh isi Pentagon Papers tersebut dengan alasan dapat mengakibatkan kehancuran negara dan melanggar undang-undang tentang spionase di Amerika Serikat serta hal membahayakan lainnya. 

Sementara itu, pemilik Washington Post Katharine Graham masih menyesuaikan diri dengan bisnis mendiang suaminya serta mempersiapkan surat kabarnya untuk dipublikasikan. Mendengar berita bahwa New York Times telah mendapatkan pusat perhatian dengan menerbitkan Pentagon Papers, Ben Bradlee selaku pimpinan redaksi dari Washington Post juga tak ingin kalah dan juga ingin memublikasikan secara lengkap tentang dokumen tersebut. Dia kemudian melacak dan mencari keberadaan Daniel Ellsberg.

Washington Post pun menugaskan reporternya menemui Daniel dengan tujuan untuk mendapatkan salinan lengkap dari makalah Pentagon tersebut dengan maksud untuk menyaingi New York Times. Namun rencana ini sia-sia karena mereka terancam oleh perintah penahanan federal. Penahanan tersebut bisa membuat Washington Post didakwa dengan alasan melakukan suatu kontroversi.

Pengacara dari The Washington Post pun menyarankan agar berita tersebut tidak dipublikasikan dan berharap Presiden Richard Nixon tidak mengajukan tuntutan kriminal terhadap mereka. Katharine kemudian berdiskusi dengan Robert, Ben Bradlee serta ketua The Washington Post. Dia merasa sangat bimbang dalam mengambil keputusan untuk memublikasikan berita tersebut atau tidak. Akhirnya Katharine memilih untuk menerbitkan berita tersebut dengan berbagai pertimbangan.

Berita ini tentunya menyulut reaksi dan peringatan dari Gedung Putih. The Washington Post dilarang keras masuk ke Istana Kepresidenan lagi dan dituntut di pengadilan. Kasus ini terkenal dengan sebutan New York Times vs United States, di mana kedua media ini dengan berani melawan pemerintah dalam mengungkap kebenaran. Namun tak disangka, ternyata Pentagon Papers juga telah tersebar ke media cetak lainnya.

Perusahaan media cetak lainnya kemudian bersatu dan mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Kasus ini pun dimenangkan oleh pihak pers karena mereka berhasil membuktikan bahwa dengan diterbitkannya Pentagon Papers, tidak akan menimbulkan hal-hal seperti yang telah dikhawatirkan oleh pemerintah sebelumnya. Kasus ini pun akhirnya melahirkan suatu amandemen pada undang-undang tentang kebebasan pers.

Kelebihan

Para pemain dalam film mampu mendalami perannya dengan sangat baik, sehingga penggambaran karakter dapat tersampaikan kepada penonton. Seperti Meryl Streep yang memerankan Katharine Graham, sebagai perempuan yang tangguh dan berani dalam mengambil keputusan besar yang mempertaruhkan perusahaannya sendiri. Serta Tom Hanks yang menampilkan sosok Ben Bradlee yang idealis dan gigih dalam menegakkan prinsip jurnalisme walaupun dibawah tekanan pemerintah. Ketegangan yang terjadi dalam film ini juga terasa, terutama ketika anak buah dari Ben telah mendapatkan materi yang akan digunakan untuk pemublikasian berita Pentagon Papers. Sang sutradara mampu menggambarkan konflik internal perusahaan media dengan sangat baik. Selain itu, ia juga mampu membuat kisah nyata sejarah perpolitikan Amerika Serikat menjadi sebuah tontonan yang menarik untuk disaksikan. 

Kekurangan

Dibutuhkan konsentrasi dan kesabaran dalam menyaksikan film ini karena alur yang disajikan cukup lambat. Penonton juga perlu mengikuti cerita dengan seksama agar dapat memahami berbagai masalah yang dihadapi oleh para tokoh, demi mengungkapkan kebenaran kepada publik.

Kesimpulan

Film ini merupakan tontonan yang wajib bagi orang-orang yang tertarik pada dunia jurnalistik. Penonton akan diajak mengelilingi ruang kerja para jurnalis dan diperlihatkan tentang cara kerja mesin cetak surat kabar. Selain itu, akting yang memukau dari para pemain juga turut membuat film ini menjadi salah satu tayangan yang sangat sayang jika dilewatkan. [ISH/382]


Posting Komentar

0 Komentar