Obituari

Sumber: feminisminindia.com


Di tengah-tengah kuburan

Di antara sautan jangkrik malam

Jeda di antara kakiku dikoyak

Jiwaku dibuatnya luluh lantak


Segala tawa mutlak menjadi tiada,

Martabatku dirajam dengan hina

Aku terperosok ke dalam jurang, bersatu bersama zina

Rahimku menyimpan benih lelaki yang menjadi budak selangkangannya.


Tiga purnama berlalu, aku masih bernyawa

Perutku membengkak, menjadi gunjingan para tetangga

Bisingnya menyeruakkan ketakutan di mana-mana

Memunculkan banyak komentar dan praduga


Kata guru, aku tak perlu sekolah lagi

Kata ibu, siapa yang punya benih?

Kata ayah, aku tak boleh keluar rumah lagi

Kata tetangga, dasar tak punya harga diri


Mereka lalu memberiku segulung benang emas

Diikatnya kakiku kuat-kuat,  bibirku dijahit rapat-rapat

Agar aku tak bisa lagi berteriak dengan keras

Karena katanya aku adalah aib masyarakat


Mereka tak membiarkanku bergerak, meski tubuhku menggeliat

Karena setiap gerakan yang aku buat

Mendatangkan banyak duka, banyak luka

Tentu saja kubiarkan membusuk dan menganga


Hari ini, hari yang istimewa

Mereka datang membawakan bunga 

Menaburkannya di atas batu nisan

Tempatku terbaring diam

[ASR/376]

Posting Komentar

0 Komentar