Bebas Berekspresi "Darurat Demokrasi Masih Banyak yang Apatis"


Orasi. Persembahan orasi oleh perwakilan UKM Bahasa PNUP di Mimbar Bebas Ekspresi, Jumat (10/12). [AN/336]

METANOIAC.id Tepat dua hari yang lalu, 10 Desember 2021 merupakan peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Hak asasi yang melekat pada diri manusia tentunya berlaku di mana saja, kepada siapa saja, dan kapan saja, maka tak heran jika peringatan hari HAM diwarnai dengan aksi-aksi masyarakat untuk menyuarakan pendapat mereka.

Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang  (BEM KMPNUP) dalam memperingati hari HAM Internasional, telah menggelar Mimbar Bebas Ekspresi di samping gedung Administrasi PNUP yang dibuka untuk seluruh mahasiswa PNUP dalam menyampaikan aspirasinya. Dalam kegiatan ini BEM telah mengonsep kegiatan tersebut dengan tema “Darurat Demokrasi Masih  Banyak yang Apatis”.

Kegiatan ini dimulai dengan membuka lapak baca, di mana diberikan ruang baik kepada Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) maupun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) untuk membuka lapaknya masing-masing. Pada kegiatan lapak baca terlihat hanya dua lembaga yang ikut andil yakni Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) dan  Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA), ditambah dengan lapak Individu yang disediakan oleh Anugerah Banten mahasiswa Jurusan Teknik Sipil.

Dalam prosesnya, kegiatan ini sempat diamankan sejenak dikarenakan cuaca yang tiba-tiba hujan, namun setelah itu kembali dilanjutkan. Sekitar pukul 16.10 WITA kegiatan ini dilanjutkan dengan mempersilahkan seluruh perwakilan HMJ, UKM, maupun mahasiswa lainnya untuk menyuarakan hak-haknya melalui orasi, akustik, teatrikal, dan puisi. 

Dibuka dengan orasi yang dibawakan oleh Anugerah Banten, dalam orasinya ia menyampaikan kritik atas pemerintahan Jokowi dan Ma’ruf Amin serta dilanjutkan dengan kritik terhadap pihak birokrasi PNUP. “Tetaplah jadi  manusia teman-teman. Jangan menjadi anjing yang membiarkan mahasiswanya makan dan minum bersama lalat di kantin yang berada dekat tempat sampah,” kata Banten dalam orasinya, Jumat (10/12).

Tidak hanya Banten, banyak dari kalangan mahasiswa PNUP yang ikut terlibat dalam menyampaikan aspirasinya seperti persembahan puisi dari HMTK, orasi dari HMS, akustik dari HMAN dan lainnya. Terhitung ada 16 penampilan dari perwakilan lembaga internal PNUP serta mahasiswa yang membawa nama pribadi.

Rizky Abadi Putra selaku Presiden BEM periode 2021/2022 mengatakan bahwa kegiatan Mimbar Bebas Ekspresi  ini sebagai alat untuk memantik kembali gerakan teman-teman mahasiswa.  “Jadi awalnya memang sengaja didesain oleh teman-teman Kementrian Kajian dan Aksi Strategi (Kastra) sebagai momen di hari HAM. Jadi momen bukan hanya sebagai momentum sebenarnya, tetapi ini alat untuk memantik kembali gerakannya teman-teman. Makanya grand design yang diangkat adalah seperti yang tertulis di keranda sana  yaitu Darurat Demokrasi Masih Banyak yang Apatis,” jelasnya, Jumat (10/11).

Perbedaan konsep kegiatan tahun lalu dan tahun ini adalah aksi tahun lalu dirangkaikan dengan berjalan melewati kantin menuju pelataran Gedung Direktorat, pengucapan sumpah mahasiswa, menyanyikan  mars mahasiswa, hingga berdiskusi dengan pihak birokrasi. Sedangkan tahun ini lebih condong kebebasan bagi siapapun yang ingin membuka lapak baca, orasi, teatrikal, akustik, dan puisi.

Suksesnya acara ini juga dikarenakan beberapa alat dan perlengkapan yang disiapkan oleh lembaga internal PNUP. “Itu kesyukuran sebenarnya dari kawan-kawan lembaga internal karena beberapa alat tadi termasuk poster dan panji-panji itu dari lembaga-lembaga. Sound System dari UKM SENIOR, toa dari HMS dan HMA. BEM hanya sebagai wadah merangkul teman-teman dan semua perlengkapan disiapkan dari teman-teman lembaga,” ucap Abadi.

Ditanya persoalan Direktur PNUP yang sedang tidak berada di lingkungan kampus, Abadi cukup menyayangkan hal tersebut. "Secara prinsip memang dari pimpinan mendukung gerakan ini, cuma yang disayangkan adalah itu, belum sempat hadir di kegiatan ini, cuma sebenarnya didukung sama WD I,” ucapnya.

Setelah melakukan kegiatan seperti ini, pihak BEM akan membuka ruang untuk konsolidasi bersama pimpinan guna menyampaikan semua aspirasi mahasiswa yang disampaikan pada 10 Desember 2021.

Memo. Izin yang dikeluarkan dalam bentuk memo oleh WD I untuk kegiatan Mimbar Bebas Ekspresi. [IST]

Pada kegiatan ini BEM tidak melakukan perizinan secara formal. Namun,  pihak BEM hanya memberikan pemberitahuan kepada WD  I tentang akan diadakannya  kegiatan ini. “Izin itu saya tidak secara formal, dalam artian saya tidak bikin surat izin, saya cuman pemberitahuan kepada WD I akan ada aksi seperti ini, saya katakan tidak perlu izin cukup memo saja yang kita buat Pak, dan itu diamini oleh WD I,” ucap Abadi.

Abadi juga berharap agar kesadaran untuk melihat kepelikan yang ada di kampus kembali terpantik. “Harapan yang paling idealnya itu, muncul kesadaran. Harapan ke biro semoga untuk kedepannya bisa didukung seperti alat-alatnya langsung disediakan dari biro dan sebagainya. Kedua, beberapa aspirasi dari mahasiswa tadi melalui orasi dan puisi diharapkan ada semacam feedback dari birokrasi, seperti terkait jam malam, ada yang kritisi kantin, semoga itu bisa jadi bahan evaluasilah untuk birokrasi. Dalam kegiatan ini tidak ada aksi anarkis di sini kita melihat kreatifitasnya teman-teman lembaga,” harapnya.

Lilis Suryani selaku Ketua II HMS PNUP berharap setelah kegiatan ini semua teman-teman mahasiswa bisa menyuarakan aspirasinya. “Menyuarakan pendapat tanpa ada penindasan, bebas dalam berekspresi di mana pun dan kapan pun itu, yang penting dalam lingkup yang benar. harapan ke biro juga yang jelas, dan juga harapan kita cuma satu yaitu agar aspirasi kita didengarkan dan diwujudkan sesuai dengan yang kita harapkan,” harapnya, Jumat (10/12). [NTA/320 NFL/348]

Posting Komentar

0 Komentar