Searching...
Jumat, 12 November 2021

 

Sumber: Orami.co.id

METANOIAC.id Data Sistem Informasi Online (Simfoni) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut terjadi 6.209 kasus kekerasan seksual pada perempuan dan untuk tahun ini, per 16 Maret 2021 telah terjadi 426 kasus.

Adapun Catatan Tahunan Komnas Perempuan menyebut ada 5.280 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan pada 2018 dan pada 2019 jumlahnya 4.898 kasus.

Dari beberapa kasus pelecehan, masyarakat kerap kali menyalahkan dan melakukan penyosohan terhadap korban. Misalnya pertanyaan: "Kamu pakai baju apa saat itu? Kamu menikmati?" Terdengar lucu untuk pertanyaan pada seorang korban. 

Kenapa tidak menanyakan pada pelaku "Kamu pas lakuin itu pakai otak tidak? Kamu binatang?"

Selain itu, di masyarakat juga kerap kali mengaitkan soal pakaian yang digunakan korban. "Halah, itu mah dia yang ngundang untuk dijahatin. Toh pakaiannya aja begitu."

Seakan-akan seseorang minta untuk dijahati dan dilecehkan. Secara logika tidak ada seorang pun yang ingin diperlakukan buruk seperti itu, apalagi dilecehkan, amit-amit.

Jika yang beranggapan bahwa pelecehan terjadi karena pakaian minim, lantas mengapa dengan korban yang pakaiannya tertutup? Apakah pakaian masih menjadi alasan sebuah pelecehan?

Seperti video yang dipublikasikan pada instagram tv kitabisa.com, ada banyak yang memakai pakaian tertutup, tetapi tetap saja jadi korban pelecehan.

Jadi, disini yang bermasalah itu otak dan nafsu pelaku yang tidak terkontrol, bukan pakaian seseorang. Nafsunya yang bermasalah kenapa orang lain yang jadi korban? Jangan libatkan orang lain untuk urusanmu, itu tercela dan merugikan. Jangan pernah berpihak pada pelaku kekerasan seksual, alasan apa pun itu tidak ada pembelaan didalamnya. Saatnya berpihak pada penyintas kekerasan seksual. Menguatkan dan mendukungnya. [HR/332]

Referensi:

0 komentar: