Searching...
Rabu, 29 September 2021

 

Kurang tidur. Ilustrasi dampak Revenge Bedtime Procrastination salah satunya kurang tidur, Rabu (29/9). (LZ/291)

METANOIAC.id Fenomena Revenge Bedtime Procrastination (RBP) nampaknya masih terbilang cukup asing di telinga, tetapi akhir-akhir ini cukup mendapat perhatian media dan publik. RBP sendiri dalam Bahasa Indonesia adalah balas dendam terhadap penundaan waktu tidur. Namun, apa sih latar belakang di balik fenomena penundaan waktu tidur ini? dan “balas dendam” apa sih yang dimaksud?

Bayangkan, sekarang tengah malam. Seluruh pekerjaanmu, mulai pekerjaan harian, tugas dari kelas-kelas yang kamu ambil, hingga pekerjaan rumah tangga telah selesai. Kamu menatap jam dinding, “ah… sudah lewat tengah malam,” batinmu. Kamu sudah siap untuk tidur dan merasa sangat lelah hingga kamu berpikir bahwa kamu akan segera pingsan.

Namun, bukannya menutup mata dan segera tidur, sesuatu yang lain terjadi. Kamu mulai membaca buku, atau bisa saja kamu mulai menonton satu episode dari film kesukaanmu. Sebelum kamu menyadarinya, satu halaman selanjutnya berubah menjadi lima bab, atau kamu telah melakukan binge-watch seluruh season dari film kesukaanmu itu.

Waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi dan kamu tahu kamu harus bangun pukul enam pagi. Kamu sangat lelah dan kamu kurang tidur, tetapi kamu juga tak dapat berbuat apa-apa.

Jika skenario ini terasa familiar, ini karena bertambahnya masyarakat dunia dalam menyerap fenomena ini menjadi suatu kebiasaan. 

Singkatnya, RBP ini merupakan keputusan sukarela untuk mengorbankan tidur untuk suatu kegiatan yang lainnya. Mereka yang kekurangan waktu luang karena jadwal harian yang sibuk dapat menderita RBP. Adapun hal yang paling berpengaruh  terhadap RBP adalah individu dengan pekerjaan yang penuh tekanan dan memakan waktu disertai dengan buruknya keahlian individu tersebut dalam mengatur waktu.

Semua orang tentu membutuhkan waktu luang dalam kehidupan mereka di luar akhir pekan. Sayangnya, banyak orang merasa harus mengorbankan tidur untuk mencapainya.

Konsep dari penundaan waktu tidur ini awalnya muncul dari sebuah studi dari Dr. Floor Kroese, seorang ilmuwan perilaku dari Utrecht University di Netherlands, dan koleganya, yang muncul di Frontiers in Psychology pada 2014. Dr. Kroese dan kolaboratornya menjelaskan mengenai penundaan waktu tidur ini sebagai bentuk perilaku dari jam tidur yang lebih lambat sementara tidak ada alasan khusus di balik penundaannya.

Selain itu, sebuah studi yang muncul pada International Journal of Environmental Research and Public HealthTrusted Source (2020) berfokus pada perilaku remaja, para penunda waktu tidur yang sangat jelas.

Studi ini mendapati banyak remaja di luar sana yang mengganti waktu tidurnya untuk menonton video, mendengarkan lagu, atau mengirim pesan singkat. Walau begitu, tujuan di balik penundaan ini tidak jelas, dan penelitian ini tidak membahas terjadinya fenomena ini pada orang dewasa.

Kurang tidur dapat menyebabkan efek samping jangka pendek dan jangka panjang

Kurang tidur tentu dapat menyebabkan efek samping jangka pendek dan jangka panjang yang parah. Meskipun menonton satu episode tambahan film favorit yang berdurasi satu jam mungkin terasa menggoda, apakah layak mengorbankan tidur malam yang nyenyak?

Mengetahui cara memerangi penundaan waktu tidur dapat membantu tidur malam yang lebih nyenyak. Terlepas dari alasannya, menunda waktu tidur dapat menyebabkan efek samping, baik secara fisik, emosi, hingga kognitif. Berikut contohnya:

1. Kurang Tidur

Kurang tidur adalah konsekuensi paling jelas dari penundaan waktu tidur. Kurangnya waktu tidur secara langsung memiliki efek buruk pada daya ingat, sekaligus efek buruk pada reaksi terhadap waktu dan kewaspadaan.

2. Gejala kecemasan dan depresi menjadi memburuk

Mereka yang hidup dengan kecemasan dan depresi sering menghubungkan gejala mereka dengan kurang tidur. Dalam banyak kasus, kecemasan dan depresi membuat lebih sulit untuk tertidur, dan kurang tidur dapat memperburuk gejala kecemasan dan depresi.

3. Mengembangkan gangguan tidur  

Kurang tidur atau begadang sesekali tidak akan memberi efek lain terhadap kesehatan. Berbeda ketika dilakukan berulang kali, penundaan waktu tidur yang teratur akan menyebabkan perkembangan gangguan tidur seperti insomnia dan microsleep, yaitu tidur singkat yang sangat mengganggu kesehatan. (LZ/291)


Sumber:

https://www.nolahmattress.com/blogs/blog/revenge-bedtime-procrastination

https://www.medicalnewstoday.com/articles/revenge-bedtime-procrastination-a-plight-of-our-times#Tips-for-better-sleep

https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2014.00611/full

0 komentar: