Jumat, Mei 24, 2024

Polisi Itu Bernama Hoegeng

| METANOAIC | Torehan Tinta Pergerakan |                          | METANOAIC | Torehan Tinta Pergerakan |                          | METANOAIC | Torehan Tinta Pergerakan |
“Orang biasa yang berusaha untuk senantiasa berbuat jujur”
Beberapa waktu yang lalu, media massa dan media sosial di guncangkan oleh berita yang hangat dan sangat kontroversial  dari seorang pria  bernama Ismail Ahmad, warga asli kepulauan Sula, Maluku Utara yang mengunggah guyonan bapak Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid yang kerap disapa Gus Dur oleh kalangan masyarakat. Hoegeng

Guyonan bapak Gus Dur adalah “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng. Pertama kalinya dalam sejarah hidupku  mendengarkan nama tersebut, seketika itu saya kemudian bertanya-tanya siapa sebenarnya Jenderal Hoegeng ini? Kenapa mantan presiden RI mendeklarasikan bahwa beliau adalah polisi yang jujur?.

Saya menelusuri sedikit jejak dari Jenderal Hoegeng dengan membaca biografi, artikel, dan menonton video-video terkait karier hidupnya, ternyata benar Beliau adalah seorang jenderal dan Kapolri pada era pemerintahan bapak Soeharto yang memiliki sifat jujur, berintegritas dan sangat dekat dengan rakyat.

Wajar saja, ketika bapak Gus Dur beranggapan kalau Jenderal Hoegeng adalah seorang polisi yang jujur karena fakta telah mencatat bahwa segala yang dilakukan oleh beliau sesuai dengan interpretasi bapak Gus Dur yang kemudian diekspresikan melalui guyonannya. Yah, itu kan merupakan  ciri khas mantan presiden kita yang dilengserkan.

Mengapa justru kita lebih banyak membahas mantan presiden dan guyonan yah?, oke kita kembali ke polisi yang jujur.
 
Ada yang terlupakan dari karakter Jenderal Hoegeng yang  belum disebutkan sebelumnya, yakni sosoknya yang tidak mengenal kata kompromi, tindakannya mampu menundukkan para mafia, serta yang paling menarik adalah slogan yang saat ini digunakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia melekat pada karakter dan sifat Jenderal Hoegeng.

Ironisnya, yang terjadi sekarang beberapa oknum polisi yang tidak bertanggung jawab justru memiliki karakter sebaliknya, demi kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Langsung teringat deh lagu Iwan Fals yang berjudul “Kereta Tiba Pukul Berapa” dalam liriknya :
Traffic light aku lewati
Lampu merah tak peduli
Jalan terus, Asekkk
Di depan ada polantas
Wajahnya begitu buas, tangkap Aku
Tawar-menawar, harga pas
Tancap gas

Lirik ini kita bahas sedikit, bahwa betul sang pengendara melakukan kesalahan tetapi di sinilah moralitas, akhlak, dan budi pekerti seorang polisi diuji.

Hukuman tanpa pendidikan menghasilkan tipe manusia biadab, pendidikan tanpa hukuman menyebabkan sistem pemasyarakatan kemudian merosot menjadi lelucon saja.

“Baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik”, kata Jenderal Hoegeng.

Berkat perkataan beliau telah memberikan kita pembelajaran bahwa posisi dan jabatan bukanlah sebuah hal yang fundamental untuk menghalalkan segala cara dalam meraihnya, tetapi bagaimana amanat yang diberikan oleh negara kita wujudkan demi kemaslahatan masyarakat.

Yah, harusnya saat ini polisi mencontoh tindakan yang dilakukan oleh Jenderal Hoegeng dan menjadikan beliau sebagai sosok teladan dalam menjalankan tugas dikarenakan polisi merupakan aparatur negara yang menjaga amanat konstitusi, sehingga integritas, kharisma, dan wibawa kepolisian kembali lagi ke pangkuan masyarakat. Bukan cuma polisi sih, tetapi untuk setiap pejabat  terlebih untuk setiap orang.

Oleh karena itu, semoga polisi di era ini dan calon polisi era mendatang  membaca dan menelusuri jejak hidup Jenderal Hoegeng ini dan menjadikannya sebagai inspirasi sekaligus motivasi yang merasuk ke dalam jiwanya, sehingga bermunculanlah Hoegeng-hoegeng yang dirindukan dalam tubuh kepolisian bukan dalam bentuk fisik, melainkan tindakan yang berintegritas sebagai representatif masyarakat.

Oke, kembali lagi kepada Jenderal Hoegeng, sebelum masa jabatannya berakhir beliau sempat  ditawari untuk menjadi Duta Besar di Belgia tetapi ditolaknya dengan alasan “Apapun tugas diberikan oleh negara selama itu di dalam negeri, saya tetap menerimanya.” Beliau kemudian tidak mengabdi lagi kepada negara dan hari-harinya dilewati dengan kegiatan-kegiatan seni.

Sebelum maut menjemput, keluarganya sempat bertanya mengapa di tanda tangan Bapak hanya tertera Hoegeng saja padahal nama lengkap Bapak kan Hoegeng Iman Santoso? kemudian sang Jenderal mengatakan, saya akan buktikan sampai saya mati bahwa iman saya betul-betul sentosa baru menggunakan tiga suku kata tersebut.

Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada pak Ismail Ahmad karena unggahan beliau membuat saya penasaran dan  bisa banyak belajar dari jejak langkah oleh sang Jenderal dengan kejujurannya dan saran kepada pak polisi untuk tidak terlalu sensitif menanggapi persoalan seperti ini pak.

Untuk bapak Jenderal Hoegeng yang terhormat, dengan tulisan ini dan para pembaca sebagai saksi, permintaan di akhir hayatmu untuk menggunakan tiga suku kata namamu segera kami wujudkan dengan mengganti judul di atas menjadi “Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng Iman Santoso.”
Penulis : A. Wira Hadi Kusuma
Baca Juga:  Nyala-Nyali Aktivis Pergerakan (Bagian I)

Vidio Untuk Anda

Video thumbnail
AFTER MOVIE KONGRES XX
01:51
Video thumbnail
Meta-Talk: Problematika Ormawa | Episode #12
43:26
Video thumbnail
Meta-Talk: Kuliah Luar Negeri Bersama IISMA | Episode #11
41:47
Video thumbnail
MAY DAY - AKSI HARI BURUH | 1 Mei 2023 | Video Jurnalistik
05:51
Video thumbnail
TOLAK UU CIPTA KERJA | 6 April 2023 | Video Jurnalistik
08:38
Video thumbnail
Meta-Talk: Nahkoda Baru Kampus Hitam | Episode #10
58:47
Video thumbnail
After Movie Kongres XIX
01:52
Video thumbnail
Meta-Talk: Mengenal Metanoiac | Episode #9
21:08
Video thumbnail
Video Pengenalan Lembaga Pers Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang 2021-2022
03:47
Video thumbnail
Meta-Talk: Esensi Pengaderan | Episode #8
43:18
Video thumbnail
Meta-Talk: Pers Mahasiswa Dapat Dipercaya(?) | Episode #7
16:18
Video thumbnail
Meta-Talk: Industri Kreatif | Episode #6
15:44
Video thumbnail
Kilas Balik 11 April 2022 | Video Jurnalistik
09:43
Video thumbnail
Meta-Talk: Feminisme | Episode #5
16:13
Video thumbnail
Gelap Terang Kampus Hitam | Video Jurnalistik
15:52
Video thumbnail
Kantin Fana 2 | Video Jurnalistik
03:06
Video thumbnail
Meta-Talk: Self Love | Episode #4
08:11
Video thumbnail
Meta-Talk: Mahasiswa Berprestasi di Luar Jurusannya | Episode #3
10:04
Video thumbnail
Meta-Talk: Mahasiswa vs Organisasi | Episode #2
16:26
Video thumbnail
Meta-Talk: Tahun Baru Bersama Direktur | Episode #1
32:01
Video thumbnail
Menilik Realisasi Janji Pembenahan Kantin | Short Documentary | PERSMA PNUP
10:15
Video thumbnail
Catatan 8 Oktober | Short Documentary | Persma PNUP | Omnibus Law
14:08
Video thumbnail
Suara Demonstran Omnibus Law | 14 Agustus 2020 | Persma PNUP
08:01
Video thumbnail
Opini Mereka Tentang Peran Media di Masa Pandemi COVID-19 | PERSMA PNUP #5
08:58
Video thumbnail
Mahasiswa VS Corona | Pers Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang | Covid-19 | Video Jurnalis #4
10:01
Video thumbnail
New Year New Hope. Kampus 2 Politeknik Negeri Ujung Pandang. Vidio Jurnlistik Persma PNUP #2
08:59
Video thumbnail
Kantin Fana, Video Junrlis Pemindahan Kantin PNUP #1
08:09
Video thumbnail
Pendapat Sivitas Kampus Mengenai WC yang ada di PNUP
04:24
Video thumbnail
DIKLAT BELA NEGARA MABA PNUP 2018 - RINDAM XIV HASANUDDIN
17:19
Video thumbnail
Bela Negara 2018
01:00
Video thumbnail
Wawancara Pengenalan Lembaga PKKMB 2018
02:19
Video thumbnail
CARAKA Malam Bela Negara Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Ujung Pandang 2018
01:58
Video thumbnail
Dokumentasi Aksi 2 Mei 2018 oleh Aliansi Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang
10:06
Video thumbnail
Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2018
01:01
Video thumbnail
Pendidikan Pers Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang 2018
01:00
Video thumbnail
Kunjungan Media Online Rakyatku dan Harian Fajar
01:01
Video thumbnail
Tahap Wawancara Anggota Baru Pers Mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang
01:01

Bagikan:

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

BERITA TERBARU