Searching...
Senin, 26 April 2021

Sumber: pixabay.com

Oleh : 

Asni Tahir

Jurusan Administrasi Niaga PNUP

Entah sudah berapa banyak daster yang kubeli untuk Mamaku. Dari berbagai macam merek pun sudah aku beli. Setiap hari gajian tiba, aku tidak pernah lupa membeli daster baru untuk Mama. Satu atau dua lembar daster, meskipun dengan gaji pas-pasan tetapi sebagai anak sulung dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak gadis dalam keluarga kecil ini, menjadi sebuah kewajiban bagiku untuk membahagiakan seorang ibu. Tidak terkira seberapa besar dan seberapa mewah hadiah yang akan kita berikan, seorang ibu dengan tulus menerima sesuatu dari seseorang yang telah menjadi bagian dari tubuhnya. Dan satu hal lagi, membelikan daster untuk Mama sudah menjadi kebiasaanku setiap gajian, karena aku merasa bahagia ketika melakukannya.

Sudah satu minggu setelah gajian tetapi aku belum membelikan hadiah daster untuk Mama. Aku sudah bosan dengan model daster yang dijual di pasar atau di mall. Tetapi aku jadi kesulitan memilih model dan warnanya. Ada banyak yang terpenting. Harus pilih yang berkualitas bagus. Mama sebenarnya lebih suka dengan warna-warna yang muda atau tidak terlalu terang, tetapi aku akan mencoba memilihkan warna yang agak cerah.

Setelah melihat-lihat dan dipikir-pikir, okelah, yang ini sepertinya cocok. Warna oranye terang dengan motif bali.

“Kiriman dari siapa itu ni?,” tanya mama ketika melihat ada sesuatu yang terbungkus rapi di genggamanku.

“Eeh..mama lagi nonton rupanya,” tanggapku kaget karena aku tidak sadar ternyata mamaku sedang asyik menonton tv di ruang tamu. Ah, padahal aku mau memberi kejutan ke mama, tetapi ya sudahlah, telanjur dilihat sama mama.

“Ah iya ma, ini untuk mama, maaf ya, kali ini agak telat hadiahnya. Soalnya bingung ma milihnya,” jelasku pada mama.

Mamaku pun membuka bingkisan itu dengan ekspresi mama yang seperti biasanya. Senyum yang merekah di antara kulit keriput itu selalu membuatku terenyuh, damai sekali rasanya. Aku hanya ingin mama bisa lebih bergaya di hadapan tetangga.

“Sudah hampir satu lemari loh nak penuh dengan daster yang kamu belikan, sampai-sampai baju bapakmu tidak kebagian tempat,” ucapnya.

“Ah, biasa sajalah ma, nantilah aku belikan lemari baru buat pakaian bapak yah,” ucapku.

“Tapi mama senang kok, ini motifnya cantik, kainnya lebih bagus dari biasanya,” Kata mama sambil meraba-raba kain daster tersebut.

“Masa iya sih ma, coba Ani pegang. Wah, betul ya, padahal awalnya Ani takut ma kalau kainnya kasar,”

“Loh, kamu kan sudah biasa beli?,”

“Oh ini beda ma, Ani beli online, jadi cuma bisa dilihat di layar hp saja ma, tidak bisa disentuh langsung,”

Online gimana sih nak?,”

“Itu loh ma, lewat aplikasi di hp, tinggal disentuh-sentuh saja gambarnya, seperti ini ma, nah kan banyak loh ma model-model daster yang baru. Cantik-cantik lagi,” aku berusaha memahamkan kepada mama seperti apa belanja online itu.

“Iyalah nak, tetapi kalau begini masih bisa nawar kan?,” tanya mama penasaran.

“Mmm….bisa ma, bisa,”

“Bayarnya gimana itu nak?,”

“Ditransfer ke rekening penjualnya aja mak,”

“Mama kok tidak yakin, nanti kalau kamu sudah transfer tetapi barangnya malah tidak datang?,” Tanya mamaku khawatir

“Tidak lah ma, ini sudah dijamin sama yang punya perusahaan aplikasi belanja onlinenya, jadi Mama tidak usah khawatir,”

“Ya sudah, Mama mau simpan ini dulu,”

Aku sudah berusaha memilih daster terbaik untuk Mama. Benar saja, sebulan ini dia belum memakai daster yang baru kubelikan itu, kupikir dia akan memakai daster itu esoknya, tetapi pagi ini Mama masih suka memakai daster berwarna coklat muda itu. Daster yang kubelikan dari bulan-bulan yang lalu pun belum pernah dia pakai. Setiap kali kubelikan Mama pasti selalu pakai, tetapi sejak beberapa bulan yang lalu Mama sudah berubah.

Sore ini aku asyik memandangi punggung Mama sambil memainkan kuku di teras rumah. Mama sangat suka berkebun. Karena sudah agak merah, jadi sore ini Mama mulai memetik cabai satu-persatu. Sedari tadi aku hanya fokus memandangi daster Mama. Detail demi detail, warna dan jahitannya sudah ada bekas tambalannya, tetapi Mama masih suka memakai daster coklat muda itu. Sebenarnya aku penasaran, tetapi aku tidak berani bertanya apapun ke Mama.

“Mama akhir-akhir ini berubah. Ada apa ma?,”

“Daster yang aku kasi sudah lama tidak dipakai, apakah Mama tidak suka?,”

“Daster coklat itu dari siapa?,”

“Mama beli dimana?,”

“Ma, jangan buat Ani bingung sendiri Ma,”

“Heh, melamun saja kamu, sini bantu Mama petik cabai, mulai pedas ini jariku,” sahut Mama seketika membuatku ambyar dari lamunanku.

“Aih, ma sebentar ada kuliah,” jawabku memelas. Padahal sebenarnya tidak ada jadwal kuliah sore itu. Seketika pikiranku mulai memunculkan ide gila. Secara diam-diam aku masuk ke kamar Mama dan berdiri di pintu. Kupandangi lemari Mama dalam-dalam sambil terus berusaha berpikir dan memberanikan diri. Ayolah Ani buka lemarinya. Tidak, aku tidak ingin macam-macam, aku bukan anak durhaka, ini hanya sebentar saja, aku hanya ingin melihat isi lemari Mama.

Kemudian pelan-pelan kubuka lemari Mama. Ada banyak pakaian Mama yang tersusun rapi. Benar, daster-daster hadiah dariku masih terbungkus rapi dengan plastiknya. Aku menghela nafas, lalu menutup pintu lemari. Malam harinya setelah selesai memasak, aku memberanikan diri untuk bertanya ke Mama.

“Akhir akhir ini Ani belum pernah lihat Mama pakai daster baru. Daster coklat itu Mama yang beli?,” tanyaku berusaha untuk tetap terlihat santai.

“Bukan, bukan Mama yang beli,"

“Lalu kenapa Ma daster yang Ani belikan tidak pernah tuh dipakai lagi,”.

“Nanti Mama pakai kok,”

Sebenarnya aku hanya merasa sedikit aneh dengan daster coklat muda itu. Kemarin saat hendak dicuci, secara diam-diam aku mengambil daster dari keranjang cucian, tidak ada bedanya, sama saja dengan daster-daster yang aku hadiahkan ke Mama, malahan daster yang aku beli lebih bagus lagi. Tetapi waktu aku coba mencium baunya, aroma daster itu agak seperti aroma serai, iya, aroma serai, tetapi baunya enak sekali, tidak seperti serai-serai yang ada di dapur. Mama tidak mungkin pakai minyak wangi, Mamaku tidak suka memakai wangi-wangian apapun. Satu minggu kemudian, sebelum Mama mulai mencuci, aku secara diam-diam meraih daster itu sembari memastikan bahwa aroma serainya pasti sudah hilang. Tetapi ahh, aromanya masih ada, masih sama seperti beberapa hari yang lalu. Yah, tetapi ini baru beberapa hari, kalau sudah berbulan-bulan mungkin sudah hilang.

Akhirnya, setelah lebih dari satu bulan, aku hendak memeriksa daster coklat itu sebelum selesai dicuci oleh Mamaku. Tetapi, kali ini aku terlambat, daster itu sudah terjemur rapi di halaman belakang. Aku melirik ke sekitar rumah, berjaga-jaga kalau ada orang yang melihat. Setelah tepat berada di hadapan daster itu, pelan-pelan aku mencium baunya. “Aih, baunya kok tidak hilang-hilang yah? Bagaimana bisa?,” aku keheranan dan bertanya-tanya seorang diri di halaman belakang seperti orang gila.

Lalu tiba-tiba Mamaku keluar dan berteriak kepadaku. “Ani, sedang apa kamu nak, siang-siang begini, panas Nak,” teriak Mama.

Sontak aku kaget dan melepas daster itu dari genggamanku. Aku segera berlari menuju ke arah Mama. Tanpa berpikir panjang, meskipun penglihatanku masih buram dikelilingi kunang-kunang hijau biru akibat kelamaan di bawah sinar matahari, aku langsung bertanya ke Mama.

“Ma, ku mohon jawab Ani Ma, itu daster dari siapa Ma, Mama beli dimana? Mama dapat darimana Ma, ayo ma Ani ingin tahu,”

“Ckck, kenapa sih kamu, itu daster Nenek kamu,”

“Tetapi Mama selalu pakai daster itu, daster yang aku belikan Mama sudah tidak pernah pakai lagi, ada apa  sih Ma?,”

“Mama harus pakai daster Nenek kamu, biar Bapak mu suka, daster yang kamu kasih juga Mama pakai kok,”

“Hah? Maksudnya Ma? Memang yang aku belikan Bapak tidak suka?,”

“Bukan begitu Nak. Sudah, ayo makan siang dulu, kalau kapurungnya dingin pasti tidak sedap lagi,” kata Mama sambil menggandeng tanganku masuk ke dalam rumah.

Sembari makan aku terus melirik penasaran ke arah Mama. Dia terlihat santai saja, seandainya tidak ada Bapak dan kedua Adikku, akan ku interogasi Mama sampai ke akar-akarnya, sampai aku puas dengan jawaban Mama. 

Daster coklat muda, daster macam apa sih itu.


0 komentar: