Searching...
Selasa, 30 Maret 2021

 


Sumber: dakwatuna.com

METANOIAC.Id Usiaku sekarang 19 tahun, hanya menunggu dua bulan untuk menuju kehidupan yang lebih dewasa. Dewasa? Tidak! Kenapa aku harus menjalani fase itu?

Setiap detik yang kulalui; bangun pagi tetapi kadang kesiangan, cuci muka, dan sikat gigi tetapi malas-malasan, memasak sarapan dan menyeduh secangkir kopi padahal tidak niat. 

Setiap malam yang akan ku temui, aku selalu berdoa agar di pagi hari bisa menjadi manusia yang lebih produktif. Benar, ketika pagi itu datang, aku hanya hidup sebagai seorang mahasiswi dengan setumpuk tugas kuliah yang tak kunjung ku selesaikan. Baik, setelah melakukan rutinitas konyol ini, mari kita mulai kuliah online hari ini.

“Kapan selesai kuliahnya?" tanya mama saat melihatku sibuk mengikuti kuliah online.

“Setengah jam lagi ma,” jawabku kemudian.

“Sudah selesai kah?” tanya mama kemudian

“Iya ma.”

“Kalo gitu bantu mama dulu angkat gabah sini, sebentar lagi hujan” pinta mama.

Mamaku sudah tua, 56 tahun, seorang ibu rumah tangga sekaligus kepala keluarga, jangan tanya bapakku dimana. Pikir sendirilah, aku tak sanggup membicarakannya.

Setiap hari mamaku ke sawah atau berkebun, tidak begitu luas, tetapi sudah lebih dari cukup untuk makan kami. Saudaraku ada lima, sudah bekerja semuanya, meskipun tidak ada yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau pegawai kantoran tetapi sebagai seorang wiraswasta. Tidak ada yang perlu ku keluhkan mengenai kebutuhan untuk menyambung hidup tetapi kamu tahu kan bahwa hidup tidak akan terasa hidup jika kita tidak punya gaya hidup. Hidup seperti ini saja, bisa makan nasi dan lauk pauknya, minum air bersih, sudah. Itu sudah cukup. Tidak, tidak, coba pikirkan lagi, pikir yang lebih logis, apakah hidup seperti itu tidak akan membuatmu jenuh? Ya, kita pasti butuh hiburan. Tubuh dan pikiran membutuhkan suasana baru. Percayalah hidup tidak akan sesederhana itu, hidup tidak akan semudah yang dipikirkan.

“Kau sudah makan?”

“Belum ma!”

“Tunggu yah mama masak kan”

“Eh, tidak usah ma, Lindi mau masak Indomie saja.”

Mama yang sudah tua renta dan baik hati, keluarga yang berkecukupan, aku bisa jalan-jalan ke mall, makan di restoran, belanja online, dan tiduran. Suatu hari seorang teman pernah berkata padaku “Kau sudah beruntung sekali, tidak ada yang perlu kau keluhkan. Semuanya sudah cukup. Aku, uang untuk beli paket data saja harus ngirit, uang kost masih susah, setiap hari aku cuma bisa masak di kostan”

Hmm iya juga, tetapi aku tidak pernah bisa bersyukur.

Setiap jalan yang kulalui, selalu terlintas dipikiranku "Haruskah aku hidup? Haruskah aku disini? Pantaskah aku memakai baju ini? Sepatu ini?" Sampai pada titik dimana kita tidak perlu bertanya-tanya tetapi pada akhirnya kita pun terus ingin mempertanyakannya. Hidupmu sudah cukup jangan minta lebih. Tidak, aku tidak bisa bersyukur.

“Ma, kenapa tidak beli mobil saja sih? Kan susah ma kalau kita mau ke rumah abangku di kota” tanyaku mengeluh pada mama.

“Mmm, susah kenapa?”

“Ya, susah ma, kitakan sering ke kota, setiap ke rumah abangku barang mama banyak sekali, isi kebun pun mama angkat semua ke dalam mobil, tidak enak kitanya ma begitu, itukan mobil sewa, mobil orang kita pakai. Enaklah kalau mobil sendiri, bisa puas bawa barang ke dalam mobil, ongkosnya pun tidak mahal. Abangku pun susah kalau diajak beli mobil”

“Hah, punya motor itu saja sudah cukup Lindi, banyak orang di luar sana ingin beli motor tetapi beli beras saja mengutang, bersyukurlah kau bisa hidup sehat sekarang" timpal mama ku dengan sabar.

“Ma, boleh tanya sesuatu?”

“Hm?”

“Mama bilang kita harus bersyukur karena sudah punya motor. Kalau orang yang tidak punya motor jadi tidak bisa bersyukur yah ma?”

“Loh, kok gitu? Ya bisalah, mereka masih bisa bersyukur kalau punya sepeda"

“Kalau mereka tidak punya sepeda gimana ma?”

“Kalaupun tidak punya sepeda, masih mending dia punya kaki untuk jalan, cari rezeki yang halal"

“Yah, ma kalau mereka lumpuh gimana ma?"

“Punya tangan, mata, telinga, hidung, itupun tidak menghalangi kita untuk bersyukur dan cari kerja”

“Nah, kalo semuanya cacat bagaimana ma?"

“Lin"

“Iya ma"

“Sudah hampir maghrib ini loh, mau ikut mama ke masjid tidak?"

“Hmm, mama saja lah"

“Aih, dasar anak gadis, maunya cuma di kamar terus, pantas laki-laki harus berpikir seribu kali untuk datang melamar, kamunya tidak pernah mau menampakkan diri"

“Eeh ma, belum dijawab pertanyaanku ma, iihh“

“Nanti sajalah Lin”

Tak pernah tuntas ketika aku bertanya seperti itu ke mama. Tolonglah ma, jangan buat anak gadismu ini penasaran terus. Setiap kali aku berpikir bagaimana cara orang-orang pinggiran sana untuk mensyukuri hidupnya. Hidup melarat? Katanya masih bisa bersyukur selagi masih hidup. Ya, tetapi hidup mereka tidak seperti kita. Mereka bersyukur dalam kemelaratan? Oh sulit kubayangkan. Setiap kali kita mengeluh dengan kekurangan dihidup kita, saat tupun sebuah kalimat akan terlontar “kita masih bisa bersyukur, diluar sana masih banyak yang ingin ini, mau beli itu, tapi susah" tidakkah pernyataan itu terlalu basi? Oke, lalu maksudnya orang-orang yang tidak bisa beli ini itu tidak bisa bersyukur yah?

Coba pikirkan baik-baik. Kita yang hidup serba berkecukupan dan ketika mengeluh orang tua kita selalu menasehati dengan cara membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang-orang melarat, orang-orang yang tingkat ekonominya sudah paling bawah, ditambah cacat pula, tidak bisa berbuat apa-apa yang bisa mereka lakukan hanya mengucap syukur dalam hati. Lain lagi jika ia hanya seorang diri, tidak ada sanak saudara, apakah harapan satu-satunya hanya menunggu ajal? Lihat, dimanakah letak hal yang bisa mereka syukuri sedang hidupnya sudah semelarat itu? Tetapi mereka masih bisa hidup. Hei, mereka memang hidup, tetapi apakah itu benar-benar bisa dianggap sebuah kehidupan?

Ayolah, aku hanyalah seorang gadis 19 tahun yang sebentar lagi menuju dewasa. Dan sampai saat ini aku tidak pernah mendapat jawaban dari pertanyaanku itu.

Didepan rumah perlahan aku menutup pintu pagar sambil menyaksikan bayangan mama perlahan menghilang di belokan. Aih, pokoknya besok aku harus tanya lagi ke mama.

Penulis :

Asni Tahir (19). Seorang Mahasiswi biasa penyuka alat tulis, tinggal di kota Makassar, saat ini sedang mengenyam pendidikan di Politeknik Negeri Ujung Pandang, jurusan Administrasi Niaga.

0 komentar: