Searching...
Sabtu, 20 Februari 2021

Portal. Screenshoot laman portal Metanoiac.id terkait opini Politeknik Islam Ujung Pandang, Sabtu (20/02). [Ist]

METANOIAC.id Saya membuka beberapa buku dan kitab di meja kerja sesaat setelah membaca opini seseorang yang mengatasnamakan “Hamba Allah” yang terbit di kolom opini metanoiac, Kamis kemarin. [Baca juga : Politeknik Islam Ujung Pandang]

Sambil membaca buku, ingatan saya kembali ke tahun 2012 pada saat pertama kali menginjakkan kaki di kampus Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). Saat itu bertepatan dengan hari Jumat, saya melihat kelas-kelas diakhiri lebih cepat, gerbang utama ditutup dan kantin kosong sesaat sebelum azan Jumat berkumandang di masjid. Pengalaman yang unik sebenarnya, saya takjub sekaligus heran.

Kita tinggalkan kenangan saya tetap di tempatnya. Tulisan ini akan berisi pandangan pribadi saya, sebagaimana penulis opini sebelumnya.

Saya tak berani mengganti kata Negeri menjadi Islam di antara kata “Politeknik” dan “Ujung” karena pada kenyataannya dukungan yang sama dengan cara yang berbeda juga berlaku pada pemeluk agama lain di kampus. PNUP bukan kampus homogen, ada banyak sekali mahasiswa dan dosen yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan semuanya khidmat dengan keyakinannya masing-masing dan kampus mendukung semua aktivitas keagamaan mahasiswanya.

Perilaku yang buruk adalah antitesis dari pengetahuan, setidaknya itu yang disampaikan Socrates. Sederhananya, sebesar apapun pengetahuan, faktor pengalinya akan berubah menjadi nol jika perilaku seseorang buruk.

“Semakin baik ilmu seseorang, semakin baik perilakunya,” katanya. Lalu apakah orang berpengetahuan yang punya moral buruk masih tetap dikatakan cerdas? “Karena ia sedang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuannya, maka ia dihukumi bodoh,” katanya.

Jadi, cukupkah untuk hanya sekadar berpendidikan saja? Jika menilik apa yang disampaikan Socrates, maka jawabannya adalah tidak, bermoral juga sama pentingnya. Pendidikan dan moral adalah paket yang tak boleh berpisah. Lalu, di mana kita mendapat standar moralitas? Silakan jawab sendiri.

Jika belum bisa menjawab, akan saya lanjutkan dengan contoh konkret melalui data. Desember 2020, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan seseorang linier dengan latar belakang pendidikan tersangka korupsi. Semenjak lembaga ini didirikan sebesar 46.15% adalah lulusan S3, 30.77% lulusan S2, dan 2.08 % adalah lulusan S1 telah ditangani.

Masih segar diingatan kita bagaimana hati dan nurani kita dilukai oleh kelakuan pejabat negara yang menyunat dana bantuan sosial yang diperuntukkan bagi masyarakat. Orang yang menjadi tersangka adalah orang yang memiliki pengalaman belajar yang panjang dan tentu karena pendidikannya ia termasuk bagian dari orang-orang ahli di Indonesia, seperti yang dipaparkan oleh penulis opini sebelumnya melalui data Badan Pusat Statistik (BPS).

Padahal, jika ia menghafal dan menadaburi surah Al-Fajr yang terdapat pada juz 30 tentang bagaimana kecenderungan manusia terhadap harta dan kewajibannya memberi makan yang miskin. Maka dengan pengetahuan yang ia miliki, ia bisa terhindar dari tindakan yang melukai hati dan nurani itu.

“Anda naif sekali!” mungkin pembaca akan menghardik saya. Tetapi saya percaya ilmu tanpa amal dan pengetahuan tanpa cinta itu sama berbahayanya. Ilmu tanpa amal hanya menjadi teori yang berakhir di secarik kertas dan pengetahuan tanpa cinta akan membuat pemiliknya berlaku culas, seperti isi potongan dari kitab al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu “Ilmu (agama) akan menjaga pemiliknya."

Karena yang menjadi titik bahasan yang dipermasalahkan oleh opini sebelumnya adalah perkara yang berhubungan dengan masalah syari, yakni hafalan juz 30 dan korelasinya terhadap pendidikan vokasi. Isinya tak jauh-jauh dari permasalahan profesionalitas dalam bekerja dan belajar, saya ingin mengutip potongan dari buku Syakhsiyatul Muslim karya Dr. Muhammad Ali Al-Hasyim.

Dalam buku tersebut, Dr. Muhammad Ali Al-Hasyim menerangkan pentingnya ilmu syari dan profesional (Itqan) dalam pekerjaan. Kita tahu pada zaman Rasulullah hidup adalah zaman keemasan. Sahabat beliau berlomba-lomba beribadah dalam ketaatan mereka menghamba hanya kepada Allah semata, namun para sahabat tak meninggalkan profesionalitasnya dalam perkara duniawi. Hal itu tercermin dari hadis yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit yang isinya Rasulullah memintanya untuk mempelajari bahasa-bahasa lain selain bahasa Arab.

Oleh karenanya, Zaid tercatat menguasai banyak bahasa hingga saat dilihat sisi dunianya tak terbersit permasalahan akhirat dan ketika kita lihat sisi akhiratnya maka tak terlihat gemerlap dunia.

Kemudian penulis menyebut jika kesibukan akan memecah konsentrasi belajar. Baik saya pun dulu berpikir demikian, lalu saya belajar perkara syari di salah satu ustaz di Bandung. Umur beliau masih muda, beliau adalah lulusan S2 dan S3 fisika murni universitas di Inggris lalu melanjutkan pendidikan syarinya di salah satu kampus di Arab Saudi sambil tetap mengajar fisika Murni di ITB. Beliau juga membuka kajian tauhid dan beberapa kajian kitab ulama terdahulu. Ya, saya dulu juga berpikir jika ilmu dunia dan ilmu syari sulit jika didalami bersamaan, lebih-lebih bisa menguras tenaga dan konsentrasi sampai akhirnya melihat satu persatu orang yang mampu mendalami keduanya.

Ilmu agama dan dunia tak seperti air dan minyak, keduanya saling mendukung. Islam pun memotivasi para pemeluknya untuk berpikir dan menadaburi ayat-ayat Quraniyah dan Kauniyah seperti pada surah Ali 'Imran ayat 190.

“Mungkin dia memang cerdas, sedangkan saya tidak secerdas dia,” mungkin anda akan berkata seperti itu. Izinkan saya menjawabnya dengan nasihat indah Haji Abdul Malik Karim Amrullah “Jangan sampai pikiran yang cemerlang menjadi budak dari tubuh yang malas."

Sebagaimana yang penulis opini sebelumnya katakan, “There's no such thing as a free lunch,” ya, saya setuju. Pengorbanan yang besar punya korelasi dengan hasil yang akan didapatkan di kemudian hari, “You can not get something for nothing” Sejalan dengan perkataan Imam Syafi’i, ilmu hanya akan digapai dengan enam metode dan dua di antaranya adalah kesungguhan dan waktu yang panjang

Teman-teman pembaca yang saya hormati. Dunia kampus hanyalah gambaran kecil dari apa yang akan kalian hadapi setelahnya. Saya setuju jika menghafal kurang baik, alangkah baiknya jika ditambah dengan menadaburi tiap ayatnya beserta tafsir dari ulama yang kompeten. Agar setelahnya, jika menghadapi hal yang bertentangan dengan nilai moral yang dianut “Ilmu akan menjaga pemiliknya."

Mahasiswa lulusan perguruan tinggi bukan robot yang dicetak sebagaimana spesifikasi yang dibutuhkan oleh pabrik. Tetapi lebih dari itu mahasiswa juga diminta untuk mampu berpikir dan mengolah informasi yang diterima lalu memutuskan baik-buruknya sebuah objek. Saya akan kembali bertanya “Lalu di mana kita mendapat standar baik-buruk itu?“ Silakan jawab sendiri, saya harap pertanyaan ini sudah bisa dijawab.

Jadi, “Apakah hafalan juz 30 akan membantu PNUP menuju standar global?” tanya si penulis opini kemarin. Pertanyaan ini mungkin satir dan oleh penulisnya berharap untuk tidak perlu dijawab. Namun saya akan mencoba menjawab: Hafalan di kepala tiap mahasiswa itu tidak akan serta merta menjadikan kampus menuju standar global, tetapi akan menjadi salah satu unsur yang penting untuk menjaga misi “Pembenahan sumber daya manusia” berada di jalur yang benar, tentu pembenahan ini tidak dimaksudkan hanya pada bidang teknis saja tetapi juga pada akhlak manusianya.

Sebagai penutup dan menjadi nasihat serta motivasi untuk saya dan teman-teman pembaca sesama muslim, Rasulullah telah memberitahu kita melalui sebuah hadis yang dishahihkan oleh syekh al-Albani, bahwa Allah membenci orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam perkara akhiratnya.

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu.”

 

Wallahu a’lam bishawab

 

Risal Akbar

Mahasiswa aktif, Penulis Lepas, Engineer, alumni Teknik Mesin PNUP

Kontak :

IG : risalakbar_

Email :risalakbarara@gmail.com

0 komentar: