Searching...
Selasa, 29 Desember 2020

Sumber : Abby Green Psychology Counselling 

METANOIAC.id Banyak dari kita yang mungkin tidak menyadari bahwa bisa jadi cara kita bersikap dan pandangan terhadap sesuatu saat ini merupakan hasil dari pengalaman yang kita alami selama masa kanak-kanak. Ternyata hal ini biasa disebut sebagai inner child. Inner child merupakan ingatan masa kecil kita atau bagian dari diri kita yang terkadang masih sering terbawa hingga dewasa. 

Pengalaman menyenangkan yang kita terima semasa kecil merupakan pemicu sifat positif kita selama ini. Namun ternyata inner child tak hanya menyimpan pengalaman menyenangkan, mereka juga menyimpan pengalaman masa kecil yang kurang baik. Dari berbagai pengalaman negatif yang diterima semasa kecil, kita akhirnya membentuk karakter seseorang yang mudah tersinggung, anti kritik, tidak percaya diri, sulit memahami perasaan dan mempercayai orang lain, hingga ketakutan untuk ditinggalkan. 

Inner child kita bisa terluka dan bila tidak diatasi hal tersebut dapat menyebabkan masalah ketika dewasa bahkan dapat mengakibatkan trauma berkepanjangan. Maka dari itu, kita perlu "berdamai" dengan inner child kita karena inner child merupakan bagian dari metafora kehidupan dan selalu ada di dalam diri kita. 

Memulihkan diri kita versi kanak-kanak bisa menyembuhkan versi kita di masa kini. Mengenal dan memahami inner child pada dasarnya adalah salah satu bentuk self-love. Yakinkan pada inner child kita bahwa kita baik-baik saja dan mengakui bahwa diri kita bisa diterima dan dicintai. Terimalah inner child kita bagaimanapun keadaannya. 

__

Cahaya yang bersinar di matamu itu adalah diriku yang sekarang. Kau adalah masa kecilku. 

Jika kuulurkan tanganku padamu, bisakah kau menggenggamnya? karena aku akan menjadi dirimu di masa sekarang. 

Sekarang aku berharap kita bisa lebih banyak tersenyum, karena diriku yang sekarang sudah tidak apa-apa.

We gon' change 


-Lirik lagu dari BTS, Inner Child-


[NND/292]

0 komentar: