Searching...
Jumat, 18 September 2020

Sumber : pixabay.com

Penulis : A. Wira Hadi Kusuma

Sang mentari  perlahan mengintip di lautan angkasa, semilir angin terkontaminasi dengan sejuknya udara pagi, permulaan yang sangat bersahabat untuk memulai sebuah aktivitas. Berangkat pagi buta untuk menimba ilmu di kampus merupakan rutinitas yang tak pernah Aku tinggalkan kecuali kondisi kesehatan yang kurang baik.

Di perjalanan menuju kampus, pikiranku teringat kala mahasiswa baru yang masih sangat lugu dan tak tahu apa-apa mengenai kondisi kampus. Pakaian yang tidak seragam memudahkan aku untuk mengetahui kondisi perekonomian setiap mahasiswa, sehingga mengharuskan setiap orang untuk berpenampilan semenarik mungkin agar tidak dipandang sebelah mata.

Pengajaran yang diberikan pun berbeda jauh sewaktu sekolah dulu, di kampus aku dituntut untuk semandiri mungkin untuk mempertanyakan hal-hal yang tidak diketahui ditambah lagi beban tugas yang jauh lebih berat. Hal tersebut merupakan suatu yang lumrah mengingat semakin tinggi tingkat kelas seseorang, maka semakin berat ujian yang dihadapinya.

Pikiranku dihentikan oleh lampu jalan berwarnakan merah dan sejenak terdistraksi melihat kendaraan yang semakin ramai membunyikan klakson, bertanda setiap orang tergesa-gesa untuk sampai ke tujuannya. Mengingat tidak lama lagi aku meninggalkan kampus menuju kehidupan yang sebenarnya, terlintas pertanyaan di benakku, apakah idealisme yang selama ini ku genggam erat dengan mudahnya terlepas begitu saja ketika menginjak dunia kerja?

Yah, setiap orang pasti memiliki prinsip hidup termasuk aku, tetapi tergantung bagaimana prinsip tersebut kita pegang teguh. Pemandangan yang mencengangkan bahwa tidak sedikit dari kita menjual idealisme dan prinsip hidup dikarenakan khawatir dengan tuntutan kebutuhan hidup, padahal Tuhan telah menjamin rejeki kita.

Bunyi klakson yang keras membuatku tersadar dari lamunan, lampu jalan pun telah berganti menjadi warna hijau membuat tanganku kembali menyentuh tangan motor untuk menancap gas.

Terkadang perjalanan membuat kita lebih mengerti tentang makna sebuah kehidupan.

Sesampai di kampus, seperti biasanya mahasiswa berkumpul sembari bersenda gurau membicarakan hal-hal yang menurutnya menarik. Itupun yang aku lakukan dulu untuk menghilangkan sedikit kepusingan yang melanda diakibatkan tugas yang sangat banyak.

Meskipun begitu, beban tanggung jawab sebagai seorang mahaiswa cukuplah besar tetapi realitas yang terjadi di era ini justru sebaliknya, kebanyakan dari kita lebih mengutamakan penampilan fisik daripada yang tersembunyi di balik fisik tersebut. Kita lebih senang mengenggam ponsel canggih yang bermerek ketimbang menenteng buku-buku, larut dalam kesedihan saat melihat nilai buruk daripada melihat teman yang lagi kesusahan ditimpah musibah, bahkan lebih sering mengunjungi pusat perbelanjaan daripada perpustakaan yang ada di kampus.

Esensi kampus semakin meredup. Kampus saat ini bukanlah sebuah kebutuhan primer bagi mahasiswa untuk menimba ilmu, tetapi hanya sekadar formalitas belaka untuk mendapatkan ijazah menuju dunia kerja. Kampus hanyalah persinggahan agar kita tidak disebut sebagai pengangguran.

Apakah hal ini yang ingin kita tanamkan kepada calon penurus bangsa kedepannya dan anak cucu kita? Seharusnya, sekarang kita lebih merefleksikan diri dengan tindakan-tindakan yang selama ini kita lakukan, karena apa yang ditanam maka itu yang dituai dan itulah cara alam semesta memperingatkan kita agar lebih arif dalam melakukan sesuatu.

Aku percaya bahwa setiap orang memiliki tujuan hidup agar dapat berbahagia, namun zona nyamanlah yang membuat kita tidak berani memutuskan langkah untuk menggapai visi hidup yang kita dambakan sehingga terjebak pada rutinitas membosankan yang membuat jiwa kita memberontak.

Meminjam kutipan dari Fiersa Besari bahwa “Yang membedakan pemenang dengan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh.

Pilihan berada ditangan kita, apakah kita berani mengambil resiko dengan memutuskan langkah yang ingin kita capai atau malah sebaliknya?


0 komentar: