Monday, June 29, 2020

5:48 PM
Sumber : Merdeka.com

Penulis : A. Wira Hadi Kusuma
"Orang biasa yang berusaha untuk senantiasa berbuat jujur"

Beberapa waktu yang lalu, media massa dan media sosial digoncangkan oleh berita yang hangat dan sangat kontroversial  dari seorang pria  bernama Ismail Ahmad, warga asli kepulauan Sula, Maluku Utara yang mengunggah guyonan bapak Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid yang kerap disapa Gus Dur oleh kalangan masyarakat.

Guyonan bapak Gus Dur adalah “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng. Pertama kalinya dalam sejarah hidupku  mendengarkan nama tersebut, seketika itu saya kemudian bertanya-tanya siapa sebenarnya Jenderal Hoegeng ini? Kenapa mantan presiden RI mendeklarasikan bahwa beliau adalah polisi yang jujur?.

Saya menelusuri sedikit jejak dari Jenderal Hoegeng dengan membaca biografi, artikel, dan menonton video-video terkait karir hidupnya, ternyata benar Beliau adalah seorang jenderal dan Kapolri pada era pemerintahan bapak Soeharto yang memiliki sifat jujur, berintegritas dan sangat dekat dengan rakyat.

Wajar saja, ketika bapak Gus Dur beranggapan kalau Jenderal Hoegeng adalah seorang polisi yang jujur karena fakta telah mencatat bahwa segala yang dilakukan oleh beliau sesuai dengan interpretasi bapak Gus Dur yang kemudian diekspresikan melalui guyonannya. Yah, itu kan merupakan  ciri khas mantan presiden kita yang dilengserkan.

Mengapa justru kita lebih banyak membahas mantan presiden dan guyonan yah?, oke kita kembali ke polisi yang jujur.

Ada yang terlupakan dari karakter Jenderal Hoegeng yang  belum disebutkan sebelumnya, yakni sosoknya yang tidak mengenal kata kompromi, tindakannya mampu menundukkan para mafia, serta yang paling menarik adalah slogan yang saat ini digunakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia melekat pada karakter dan sifat Jenderal Hoegeng.

Ironisnya, yang terjadi sekarang beberapa oknum polisi yang tidak bertanggung jawab justru memiliki karakter sebaliknya, demi kepentingan pribadi di atas kepentingan umum.

Langsung teringat deh  lagu Iwan Fals yang berjudul “Kereta Tiba Pukul Berapa” dalam liriknya :
Traffic light aku lewati
Lampu merah tak peduli
Jalan terus, Asekkk
Di depan ada polantas
Wajahnya begitu buas, tangkap Aku
Tawar-menawar, harga pas
Tancap gas

Lirik ini kita bahas sedikit, bahwa betul sang pengendara melakukan kesalahan tetapi disinilah moralitas, akhlak, dan budi pekerti seorang polisi diuji.

Hukuman tanpa pendidikan menghasilkan tipe manusia biadab, pendidikan tanpa hukuman menyebabkan sistem pemasyarakatan kemudian merosot menjadi lelucon saja.

“Baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang baik”, kata Jenderal Hoegeng.

Berkat perkataan beliau telah memberikan kita pembelajaran bahwa posisi dan jabatan bukanlah sebuah hal yang fundamental untuk menghalalkan segala cara dalam meraihnya, tetapi bagaimana amanat yang diberikan oleh negara kita wujudkan demi kemaslahatan masyarakat.

Yaa, harusnya saat ini polisi mencontoh tindakan yang dilakukan oleh Jenderal Hoegeng dan menjadikan beliau sebagai sosok teladan dalam menjalankan tugas dikarenakan polisi merupakan aparatur negara yang menjaga amanat konstitusi, sehingga integritas, kharisma, dan wibawa kepolisian kembali lagi ke pangkuan masyarakat. Bukan cuma polisi sih, tetapi untuk setiap pejabat  terlebih untuk setiap orang.

Oleh karena itu, semoga polisi di era ini dan calon polisi era mendatang  membaca dan menelusuri jejak hidup Jenderal Hoegeng ini dan menjadikannya sebagai inspirasi sekaligus motivasi yang merasuk ke dalam jiwanya, sehingga bermunculanlah Hoegeng-hoegeng yang dirindukan dalam tubuh kepolisian bukan dalam bentuk fisik, melainkan tindakan yang berintegritas sebagai representatif masyarakat.

Oke, kembali lagi kepada Jenderal Hoegeng, sebelum masa jabatannya berakhir beliau sempat  ditawari untuk menjadi Duta Besar di Belgia tetapi ditolaknya dengan alasan “Apapun tugas diberikan oleh negara selama itu di dalam negeri, saya tetap menerimanya." Beliau kemudian tidak mengabdi lagi kepada negara dan hari-harinya dilewati dengan kegiatan-kegiatan seni.

Sebelum maut menjemput, keluarganya sempat bertanya mengapa di tanda tangan Bapak hanya tertera Hoegeng saja padahal nama lengkap Bapak kan Hoegeng Iman Santoso? kemudian sang Jenderal mengatakan, saya akan buktikan sampai saya mati bahwa iman saya betul-betul sentosa baru menggunakan tiga suku kata tersebut.

Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada pak Ismail Ahmad karena unggahan beliau membuat saya penasaran dan  bisa banyak belajar dari jejak langkah oleh sang Jenderal dengan kejujurannya dan saran kepada pak polisi untuk tidak terlalu sensitif menanggapi persoalan seperti ini pak.

Untuk bapak Jenderal Hoegeng yang terhormat, dengan tulisan ini dan para pembaca sebagai saksi, permintaan di akhir hayatmu untuk menggunakan tiga suku kata namamu segera kami wujudkan dengan mengganti judul di atas menjadi "Polisi Jujur Itu Bernama Hoegeng Iman Santoso."

0 komentar: