Monday, May 25, 2020

1:14 PM
Ilustrasi. Ilustrasi kepergian bulan Ramadan menuju hari kemenangan. [Sumber: kaskus.co.id]

Penulis :
Sadri Saputra.S.
Citizen Journalism

Kemenangan adalah sebuah pencapaian tertinggi atas keberhasilan menjalani segala proses dengan Optimis, Usaha, Kerja keras, Kedisiplinan, serta Berbagai perjuangan dan Dinamika untuk mewujudkan suatu impian. Kemenangan diberikan kepada mereka sebagai suatu bentuk tanda jasa lebih dari Satya Lencana.

Siapa yang tidak mengerti arti dari kata menang? Kemenangan menjadi kata yang selalu ada dalam hati manusia, sebab setiap impian selalu mengharap kemenangan.

Siapa yang tidak ingin menang? Berhasil? Sukses? dan berbagai istilah pencapaian titik tertinggi?

Hal yang sangat wajar, jika setiap manusia memiliki ambisi kemenangan atas segala harapan, perwujudan kemenangan itulah yang memberikan energi positif kepada setiap pemenang.

Tidak terasa, 30 hari telah berlalu kalimat takbir menggema di seluruh penjuru dunia, sebagai bentuk perayaan kemenangan umat Islam atas keberhasilannya menjalankan bulan suci yang penuh keberkahan ini.

Bagi mereka, 30 hari bukanlah sekedar menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih dari itu, ia memahami Ramadan sebagai sebuah madrasah untuk memperbaiki diri.
Sebagiannya lagi mengibaratkan Ramadan sebagai sebuah kompetisi, mereka yang bertahan hingga dipenghujung Ramadan adalah mereka yang berhak meraih predikat tertinggi dan penghargaan Satya Lencana yang Allah SWT janjikan yakni "Orang-orang yang bertakwa." Meski kita menyadari bahwa Ramadan bukanlah sebuah kompetisi dunia.

Untuk merayakan kemenangan atas perjuangan menahan hawa nafsu serta hadiah atas kompetisi, sebagian besar manusia dipermukaan bumi ini merayakannya dengan cara yang berbeda-beda. Bagi anak-anak, mereka begitu riang gembira dengan baju barunya. Bagi seorang ibu, ia begitu semangat memasak segala jenis hidangan makanan untuk keluarga dan kerabat. Bagi seorang ayah, ia begitu khusyuk melantunkan kalimat takbir di masjid. Sebagian dari kita hanya merayakannya dengan penuh kesederhanaan. Sebagian besarnya lagi, sedang termenung berdiam diri dalam sebuah bilik kecil berteman kegelapan untuk merefleksi diri atas segala khilaf selama Ramadhan. 

Berbeda dengan para pejuang dan pahlawan bangsa, yang sedang mewakafkan diri kepada tanah air atas misi kemanusiaan, di tengah pandemi COVID-19 ini, ia merayakan hari kemenangan dengan penuh keterbatasan, ia tidak mempersiapkan pakaian baru, tidak mempersiapkan hidangan makanan untuk keluarga, tidak merayakan lebaran bersama keluarga tercintanya, tetapi ia percaya bahwa perjuangan yang penuh dengan keikhlasan adalah keberkahan hari kemenangan atas tugas mulianya.

Seluruh tradisi tersebut adalah bentuk perayaan kemenangan, meskipun baju baru dan segala jenis santapan lezat bukanlah sebuah kewajiban terselenggaranya hari kemenangan, namun hal tersebut adalah bentuk rasa syukur seorang insan kepada sang Maha Kuasa.

Lantunan kalimat takbir memberikan guncangan dahsyat kepada semesta, menandakan bahwa Ramadan segera beranjak pergi. 

Lantunan kalimat takbir, mengiringi kepergian Ramadan untuk menjelajahi semesta selama 11 bulan lamanya, dan kepulangannya masih menjadi misteri bagi manusia, hanya ada dua kemungkinan; Ramadan tidak akan pulang untuk selamanya, atau justru kita yang akan berpulang ke pangkuan Ilahi. 

Kepergian Ramadan, meninggalkan banyak pelajaran bagi setiap individu manusia; Sebagaimana madrasah, ia adalah wadah untuk menimba banyak ilmu dan sebagaimana kompetisi, ia adalah wadah mengumpulkan banyak pencapaian.

Sejatinya, Ramadan tidak benar-benar pergi, ia akan tetap pada diri manusia dalam menjelajahi kehidupan, nilai-nilai yang diajarkan Ramadan mestinya tidak hanya dilakukan pada Ramadan saja, tetapi terus dipertahankan bahkan ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi lebih baik. Semangat Ramadan harusnya terus terpatri dalam diri setiap insan.

Semoga saja, kepergian Ramadan tidak menandakan bahwa berakhir pula pelajaran yang dititipkan Ramadan kepada kita, tetapi dapat dijadikan sebagai awalan untuk memulai kehidupan yang baru. 

Tiada gelar yang paling mulia, selain meraih gelar "Orang-orang yang Bertakwa," dan semoga kita adalah bagian darinya. Semoga kita kembali ke fitrah sebagaimana hakikat manusia, dan dipertemukan kembali dengan Ramadan kemudian.

Selamat Merayakan Kemenangan,
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Minal Aidin Wal Faizin, 
Mohon Maaf Lahir dan Batin.
[Sadri Saputra.S.]

0 komentar: