Tuesday, October 29, 2019

7:44 PM

Surat. Isi Surat Halaman Pertama. [Ist]

Surat. Isi Surat Halaman Kedua. [Ist]


METANOIAC.id Beberapa minggu yang lalu tepatnya pada hari Kamis (3/10), telah beredar foto surat yang nama pengirimnya tertulis dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemerhati Pendidikan Sulawesi Selatan di berbagai macam grup WhatsApp mahasiswa Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP). 

Amplop. Amplop Surat yang Membungkus Surat Kaleng. [Ist]
Surat ini ditujukan untuk Ketua Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) PNUP yang ditemukan oleh Andi Triangga Rahmat secara tiba-tiba di Sekretariat HMA PNUP. “Jadi, saya temukan itu surat di balik gorden dan di atas kusen jendela dalam kondisi masih tersegel," jelas Triangga.

Surat itu membahas mengenai dugaan pelanggaran Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN) Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Nomor 8 Tahun 2018 tentang penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri yang melibatkan direktur atas nama Muhammad Anshar dan Wakil Direktur (WD) 1 Bidang Akademik PNUP atas nama Ahmad Zubair. Pelanggaran tersebut pun telah diakui sendiri oleh direktur dan WD 1 di hadapan rapat anggota senat bulan Juni 2019.

Pelanggaran pertama, diduga direktur dan WD 1 PNUP memasukkan puluhan nama-nama calon mahasiswa baru yang tidak memenuhi syarat lulus ujian dari nomor tes yang dititip oleh mitra atau kolega dan menggantikan calon mahasiswa baru yang dinyatakan lulus murni, kemudian dilakukanlah pengumuman melalui website PNUP. Pelanggaran kedua, diduga direktur “meluluskan” puluhan mahasiswa baru lewat jalur penelusuran bakat dan prestasi (jalur bebas tes) tanpa sepengetahuan ketua jurusan.

Akibat adanya dugaan pelanggaran tersebut dan demi mempertahankan idealismenya, ketua jurusan Teknik Kimia atas nama Wahyu dan ketua jurusan Teknik Mesin atas nama Jamal mengundurkan diri dari jabatannya. Dan seluruh ketua jurusan PNUP sepakat untuk meminta pertanggungjawaban direktur karena dianggap telah merusak, mencederai penerimaan mahasiswa baru secara nasional dan merugikan masyarakat.

Saat ditemui oleh Crew Metanoiac, Lidemar Halide selaku WD 3 Bidang Kemahasiswaan mengatakan bahwa kasus tersebut sudah ditindaki oleh pihak inspektorat secara langsung dan kesimpulan yang didapat diduga ada orang-orang yang tidak suka kepada direktur sehingga ingin mengganggu stabilitas PNUP. “Itu sebenarnya sudah lama, semenjak pengumuman. Jadi ada yang melapor ke kementerian sehingga pihak inspektorat datang ke sini (PNUP) dan memeriksa selama  10 hari untuk mencari tahu semua yang berhubungan tentang kasus tersebut,” jelasnya.

Menurut Lidemar mengenai isi surat tersebut yang membahas tentang mahasiswa yang “diluluskan” adalah sebuah fitnah dan untuk menyikapi hal tersebut, direktur sudah menyiapkan tim untuk menyelidiki asal muasal surat tersebut. “Tidak, fitnah itu (surat yang beredar). Makanya Pak Direktur sekarang menyiapkan tim komisi disiplin yang baru di PNUP untuk memanggil orang-orang yang menyebarkan surat tersebut. Itu kan pasti ketahuan siapa yang bikin dan akan dikenakan sanksi berat karena mengganggu stabilitas PNUP dengan mengajak mahasiswa untuk bergerak,” jelas Lidemar.

“Jadi mengenai puluhan mahasiswa yang masuk secara ilegal itu salah, apalagi puluhan mahasiswa yang diluluskan lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK), itu nonsense. Mana buktinya? Kasih liat (kalau ada). Tapi dengan bahasanya (penulis surat), kayak seolah-olah dia tahu semuanya. Suruh datang menghadap, bila perlu depan hukum supaya bisa diketahui siapa yang provokasi,“ tambah Lidemar.

Dari keterangan yang diberikan oleh Lidemar, pelaku yang diduga merupakan provokator dari kasus ini dan penulis surat tersebut sudah diketahui identitasnya, hanya saja tidak perlu dipublikasikan nama-namanya. “Kalau mau diklarifikasi, bisa saja itu kebalikan dari yang dinyatakan di situ (surat). Masa kita mau buka lagi aib dosen yang ditulis di situ? Tentu kita tidak mau. Sebenarnya saya tau orangnya siapa, tinggal dijemput,” jelas Lidemar.

Berdasarkan isi surat tersebut, dosen-dosen yang disebutkan namanya antara lain dua ketua jurusan yang mengundurkan diri. Namun sampai saat ini, mengenai kebenaran atas alasan pengunduran diri dua ketua jurusan tersebut masih belum menemukan titik terang. Pasalnya, kedua ketua jurusan yang mengundurkan diri menunjukkan sikap bahwa tidak ingin diwawancarai oleh Crew Metanoiac. 

Lain halnya dengan mantan ketua jurusan Teknik Mesin dan sekretaris senat yang tidak merespon tawaran wawancara dari Crew Metanoiac, mantan ketua jurusan Teknik Kimia justru dengan jelas mengungkapkan bahwa beliau tidak ingin diwawancarai. “Tidak, saya tidak ingin membahas lagi soal itu, tidak baik jadi polemik lagi,” jelas Wahyu.

Selain alasan pengunduran diri dua ketua jurusan di atas yang belum jelas kebenarannya, surat kaleng tersebut juga masih diragukan keasliannya. Karena bukan hanya tidak memiliki kop surat, tapi surat kaleng yang ditulis pada tanggal 10 September 2019 itu juga tidak ditanda tangani oleh penulisnya. [FK/280]

0 komentar: