Monday, September 30, 2019

2:11 PM


Foto bersama. Foto bersama antara tim HME dengan tim HMM sebelum pertandingan babak semifinal dimulai, Senin (9/9). [Ist]

METANOIAC.id Beberapa waktu yang lalu pada minggu pertama perkuliahan semester ganjil dimulai, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sepak Bola mengadakan turnamen sepak bola mini yang bertajuk Liga Lembaga.

Setelah beberapa tahun terakhir tidak diadakan, akhirnya tahun 2019 ini menjadi tahun kebangkitan bagi Liga Lembaga tersebut. Liga Lembaga diadakan bertujuan khusus untuk mempererat tali silaturahim antar sesama lembaga internal kemahasiswaan Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP).

Peserta yang boleh mengikuti Liga Lembaga adalah lembaga-lembaga internal kemahasiswaan yang ada di PNUP yakni UKM, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Mahasiswa (DEMA) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). 

Liga Lembaga 2019 diadakan pada tanggal 2 September 2019 sampai 11 September 2019.  Pada tahun ini, dari 19 lembaga kemahasiswaan internal kampus di luar UKM Sepak Bola sebagai penyelenggara, hanya ada 6 lembaga yang mendaftar sebagai peserta turnamen, yaitu UKM Seni dan Olahraga (SENIOR), UKM Tarung Derajat, UKM Wirausaha, Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS), Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) dan Himpunan Mahasiswa Elektro (HME).

Pertandingan dilakukan pada sore hari setelah selesai proses perkuliahan, sehingga tidak mengganggu akademik dari setiap peserta.

Turnamen ini dimulai dengan babak penyisihan grup, dilanjutkan dengan babak semifinal kemudian babak final untuk menentukan juara Liga Lembaga 2019. Pada babak penyisihan grup, UKM SENIOR dan UKM Tarung Derajat harus gugur terlebih dahulu karena berada di dasar klasemen grup. Sisanya berhak lolos ke babak semifinal sebagai juara dan runner-up grup masing-masing.

Babak semifinal mempertemukan juara grup A yakni HMS dengan runner-up grup B yakni UKM Wirausaha. Dan juga mempertemukan runner-up grup A dalam hal ini HMM dengan juara grup B yakni HME. Dan babak semifinal yang pertama, mempertemukan HMM dengan HME.

Awalnya, pertandingan berjalan dengan lancar hingga wasit meniupkan peluitnya sebagai tanda babak pertama telah selesai dengan skor sementara 1-2 untuk keunggulan HME. 

Kemudian dilanjutkan babak kedua, kedua tim saling jual beli serangan yang membuat pertandingan semakin menarik. Namun, di tengah-tengah pertandingan babak kedua, pertandingan terhenti beberapa saat karena adanya sedikit insiden.

Kemudian pertandingan dilanjutkan, hingga akhirnya babak kedua pun selesai. Dengan hasil seri 3-3, maka pertandingan dilanjutkan dengan babak pinalti. 

Dari babak pinalti tersebut membawa HMM memenangkan pertandingan dan berhak lolos ke babak final dengan skor akhir 3(2)-3(0).

Setelah babak pinalti selesai, tim HMM beserta suppoternya merayakan kemenangan di Lapangan Merdeka. Namun selebrasi kemenangan tersebut berujung dengan kericuhan.

Diduga, kericuhan tersebut terjadi karena adanya provokator yang memprovokasi para supporter dan membuat kesalahpahaman tak bisa dihindarkan.

“Kericuhan kemarin terjadi karena adanya oknum penonton yang melakukan provokasi terhadap pihak yang berseteru,” jelas M. Irzhan Syah Imran selaku ketua panitia Liga Lembaga 2019.

Kericuhan yang terjadi akhirnya membuat Liga Lembaga dihentikan untuk tahun ini tanpa babak final sehingga tidak ada tim yang keluar sebagai penyandang gelar juara. 

“Kami dari pihak panitia menginginkan Liga Lembaga tetap  berlanjut, namun dari pihak birokrasi tetap kukuh untuk memberhentikan Liga Lembaga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tambah Irzhan.

Selain dihentikannya Liga Lembaga 2019, dampak atau sanksi-sanksi dari kericuhan tersebut adalah kedua tim yang bersangkutan dalam hal ini HME dan HMM tidak dapat mengikuti perlombaan sepak bola apapun yang ada di kampus, semisal Liga Lembaga tahun depan kembali diadakan, itu berarti dilaksanakan tanpa kedua tim tersebut.

Liga Lembaga yang seyogianya dapat mempersatukan, mempererat kebersamaan dan mempererat kekeluargaan antarsesama lembaga internal kampus malah berujung dengan perseteruan.

“Pertandingan itu hanya perangkat untuk menyatukan, semua disatukan di sini (Liga Lembaga), baik itu dari pemain, panitianya, bahkan penontonnya. Seharusnya saling bahu membahu,” terang Lidemar Halide selaku Pembantu Direktur (PD) 3.

Selain itu, dengan terjadinya insiden yang tidak diinginkan ini, banyak pihak yang merasa kecewa, terutama dari UKM Sepak Bola, yang salah satu program kerja umumnya tidak berjalan sesuai yang diinginkan. Bahkan bisa jadi pada saat Pimpol tahun depan, cabang olahraga sepak bola ditiadakan.

“Sanksi-sanksi yang diberikan tergantung pimpinan dalam hal ini Direktur. Saya sudah lapor, dan direktur mengatakan 'ya sudah, tidak ada lagi, biar di Pimpol nanti tidak ada lagi cabang olahraga bola'," jelasnya.

Tidak adanya tim yang keluar sebagai juara membuat UKM Sepak Bola memutuskan jalur alternatif dan mengambil 2 tim sebagai tim terfavorit.

Tim terfavorit disabet oleh HMS dan UKM Wirausaha. Penilaian tim terfavorit ini diambil dari tim yang lolos semifinal dan dapat menjunjung tinggi sportifitas.

Apabila semua pertandingan kemarin berjalan dengan lancar tanpa adanya insiden apapun, panitia menyiapkan beberapa penghargaan selain untuk juara 1 sampai juara 3.

“Rencananya juara yang diambil yaitu dari juara satu sampai juara tiga. Selain itu, terdapat penghargaan tambahan yaitu pemain terbaik, top score, dan best supporter,” tutur Irzhan.

Sebagai pihak penyelenggara Irzhan berharap agar kedepannya pihak birokrasi kembali memberi izin tahun depan dan semua lembaga mencapai tujuan yang sama dari Liga Lembaga ini. "Karena dengan sepak bola, kami dapat mempererat silaturrahim antar lembaga," harapnya. [FK/280]

0 komentar: