Wednesday, July 3, 2019

11:00 PM
Pembangunan. Potret pembangunan rusunawa di Kabupaten Bone sebagai awal pembangunan kampus Politeknik Teknologi Bone (PDD Bone), Mei 2019. [Ist]


Program Studi Di Luar Domisili (PDD) merupakan program penyelenggaraan kelas jauh yang dilakukan oleh perguruan tinggi pilihan dengan membuka program studi (prodi) di luar domisili. PDD merupakan program kerja dari Muhammad Nuh selaku Menteri Pedidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) 2009-2014.
Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) menjadi salah satu perguruan tinggi yang dipilih untuk menjadi pembina PDD. Daerah yang akan dituju sebagai tempat berdirinya PDD adalah daerah yang jauh dari pusat kota namun wilayah tersebut memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai. Adapun PDD yang pernah dan atau masih dibina oleh PNUP sampai saat ini, antara lain :
1. PDD Fakfak Kabupaten Fakfak, Papua Barat
2. PDD Bombana Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara
3. PDD Nagekeo Kabupaten Nagekeo, NTT
4. PDD Keerom Kabupaten Keerom, Papua
5. PDD Manokwari Kabupaten Manokwari, Papua Barat
6. PDD Bone Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan
Berbeda dengan PDD Fakfak yang sudah berhasil mandiri menjadi Politeknik Negeri Fakfak (POLINEF), PDD Keerom dan PDD Manokwari justru ditutup karena pihak Pemerintah Daerah (Pemda) tidak menyiapkan lahan pembangunan sebagai tempat belajar mengajar. Sekarang hanya tersisa PDD Bombana, PDD Nagekeo, dan PDD Bone. 

PDD Bone dan Perjalanannya

PDD Bone dirintis pada tahun 2014 di akhir masa jabatan Pirman sebagai Direktur PNUP. Kepemimpinan dilanjutkan oleh Hamzah Yusuf selaku Direktur PNUP periode 2014-2018 dan pada masa jabatannya Hamzah menunjuk Pirman sebagai ketua PDD Bone. Sekarang PDD Bone di bawah tanggung jawab Prof. Muhammad Anshar, dengan ketua PDD Bone yang baru saja diangkat tahun ini yaitu Tasrif A. Sommeng, dosen jurusan Teknik Mesin.
PDD Bone merupakan program resmi pemerintah dengan izin SK Kemendikbud No. 401/E/O/2014, tanggal 11 September 2014. Saat ini PDD Bone terdiri dari tiga jurusan dengan masing-masing jurusan hanya memiliki satu Prodi, yaitu jurusan Teknik Kimia dengan Prodi D3 Teknik Kimia Mineral, jurusan Teknik Sipil dengan Prodi D3 Teknik Sipil, dan jurusan Administrasi Niaga dengan Prodi D3 Administrasi Bisnis.
Sejak dibentuk, PDD Bone belum memiliki lahan sendiri untuk proses belajar mengajar. Selama ini, mahasiswa belajar dengan menumpang dari satu gedung ke gedung yang lainnya. Total sampai saat ini sudah empat gedung yang menjadi tumpangan mahasiswa PDD Bone, yakni Balai Latihan Kerja (BLK) Dinas Perindustrian, SMKN 1 Watampone, Veteran, dan sekarang di SMPN 7 Watampone.
Saat ini PDD Bone memiliki delapan kelas dengan jumlah mahasiswa yang aktif sekitar 145 orang dari total keseluruhan 183 mahasiswa terdaftar. Dari 183 mahasiswa tersebut, 138 diantaranya adalah penerima beasiswa yang tersebar di beberapa macam beasiswa, antara lain Bidikmisi, PPA, dan Bantuan PEMDA Bone. Selain itu, tercatat bahwa tenaga kerja yang berpartisipasi di PDD Bone yaitu sebanyak 72 dosen PNUP dan sembilan dosen perguruan tinggi lain/lokal. Sampai sekarang, PDD Bone menghasilkan 61 alumni yang lulus pada tahun 2017 dan 2018.
Mahasiswa yang bisa dibilang saudara jauh PNUP ini memiliki perbedaan sistem belajar. PDD Bone memiliki sistem belajar “blok” yaitu memiliki jadwal tertentu. Dosen akan mengajarkan mata kuliah tertentu selama satu minggu hingga tuntas. Terkadang diselesaikan sampai final, namun ada juga beberapa dosen yang melaksanakan final di kampus PNUP. Selain sistem belajar, tempat proses pembelajaran yang masih menumpang dengan sekolah daerah tersebut, nampaknya membuat waktu kuliah yang harus menyesuaikan ketersediaan tempat tersebut. Bahkan tak jarang sesama mahasiswa rebutan kelas.
PDD Bone yang merupakan perguruan tinggi vokasi harus tetap mempertahankan gelar praktik yang lebih banyak daripada teori. Lantas, di mana tempat mahasiswa PDD Bone melakukan praktikum jika tempat belajar saja menumpang? Untuk praktikum, semua dilakukan di PNUP karena tidak adanya bahan maupun alat praktikum di sana. Mereka akan memiliki jadwal ke PNUP untuk praktikum dalam rentang waktu beberapa minggu dengan biaya transportasi ke Makassar yang ditanggung oleh pihak PNUP. “Jadi untuk mata kuliah teori diselesaikan terlebih dahulu di Bone dan praktikum dilakukan di PNUP saat mahasiswa PNUP memasuki libur semester,” jelas sekretaris PDD Bone, Ikhsan.
Edi Junaedi, mahasiswa tingkat akhir jurusan Administrasi Niaga, mengungkapkan bagaimana proses selama ia menimba ilmu di PDD Bone. Jadwal perkuliahan yang lambat dikarenakan dosen PNUP yang harus membagi waktu. Setiap akan memulai perkuliahan, mahasiswa PDD Bone akan mendapat informasi sebelumnya. Sehingga segala sesuatu harus dipersiapkan lebih oleh mahasiswa PDD Bone. “Mahasiswa harus membaca materi-materi yang akan diajarkan untuk mempermudah perkuliahan. Selain itu, stamina dan mental juga perlu di persiapkan mengingat jadwal yang dipadatkan,” tutur Edi.
Selain proses pembelajaran, mahasiswa PDD Bone tidak seaktif mahasiswa PNUP dalam bidang ekstrakurikuler. Mereka tidak memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang berdomisili di kampus PDD Bone. Selain itu, keaktifan dalam himpunan juga terbilang kurang mengingat jarak daerah PDD Bone dengan PNUP yang jauh. Hasrat dalam bidang ekstrakurikuler makin diminati mahasiswa PDD Bone, semisal dalam perhelatan Pekan Ilmiah dan Olahraga Politeknik (PIMPOL), mahasiswa PDD Bone juga ikut serta dalam setiap lomba mewakili jurusan masing-masing. Selain itu, ada juga beberapa mahasiswa yang telah mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang tidak kalah dengan mahasiswa PNUP.
            Hampir sama dengan PNUP, ada tiga jalur untuk masuk PDD Bone yaitu PMDK namun bukan sistem online, tetapi pihak PNUP menyurati sekolah-sekolah. Jalur masuk yang kedua adalah UMPN dan yang terakhir adalah ujian tulis lokal yang dilakukan langsung di Bone, agar yang tidak lulus pada PMDK bisa mendaftar lewat jalur UMPN dan jika masih belum lulus, bisa mengikuti ujian tulis lokal.
Sampai saat ini, status PDD Bone masih menjadi binaan PNUP. Mulai dari direktur, ketua jurusan, ketua prodi, dan semua pejabat strukturnya masih sama dengan yang ada di PNUP, termasuk bidang akademik, administrasi, serta akreditasi jurusan maupun akreditasi prodi. Selain itu, ijazah yang didapatkan oleh mahasiswa PDD Bone adalah ijazah dari PNUP. Namun struktur pengurus PDD Bone, sistem operasional, dan yang lainnya akan berubah jika nantinya PDD Bone akan berdiri sendiri.
Berbicara mengenai ‘berdiri sendiri’, PDD Bone digadang-gadang akan segera mandiri dari PNUP. Bahkan PDD Bone mencoba tegak akhir tahun 2019 sehingga direncanakan bahwa mahasiswa PDD Bone angkatan 2018 adalah angkatan terakhir. Artinya, mahasiswa yang aktif saat ini diselesaikan sebagai mahasiswa PNUP. Sejak masa jabatan Hamzah, komunikasi intens sudah dilakukan dengan wakil presiden (Wapres) Jusuf Kalla dan pemerintah pusat untuk sesegera mungkin memandirikan PDD Bone. Jusuf Kalla yang juga lahir di Kabupaten Bone ini merupakan salah satu orang yang berperan penting dalam memandirikan PDD Bone. “Wapres Jusuf Kalla menjamin bahwa PDD Bone bisa mandiri tahun ini. Artinya, Wapres bisa menekan Pemda Bone. Wapres juga mengatakan bahwa sudah memerintahkan Kemenristekdikti agar PDD Bone segera berdiri sendiri,” jelas Pembantu Direktur I, Zubair.
            Rencananya, apabila PDD Bone berhasil dimandirikan, akan menggunakan nama Politeknik Teknologi Negeri Bone (PoliTB). PoliTB ini akan menjadi perguruan tinggi vokasi pertama yang ada di Kabupaten Bone dan berbeda dari 14 perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Bone. Sebelumnya harapan pengembangan PoliTB yang telah dibuat adalah di bidang pangan. Jadi PoliTB akan memiliki warna yang berbeda dari PNUP, sesuai dengan potensi yang dimiliki Kabupaten Bone, namun kembali lagi ke hasil diskusi yang dilakukan dengan Pemda.
Adapun visi dari PoliTB adalah sebagai pusat pendidikan tinggi vokasi yang mampu bersaing secara nasional dan global dalam bidang pertambangan dan agro–industri.  Misinya yaitu :
1.      Menyelenggarakan pendidikan tinggi vokasi dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.
2.      Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan melalui riset terapan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi sumber daya alam yang dimiliki.
3.      Mewujudkan suasana akademik (proses belajar mengajar, riset) yang kondusif dan mendorong terbangunnya karakter kewirausahaan.
4.      Menyelenggarakan sistem manajemen perguruan tinggi vokasi yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.

Namun untuk memandirikan PDD Bone, dibutuhkan pondasi yang kuat untuk menyangga tiang-tiang yang telah ada. Seperti lahan yang telah disiapkan Pemda Bone untuk pembangunan sarana pendidikan dan juga mendukung kemandirian PDD Bone, yaitu tanah seluas 88.982 m2 yang terletak di Desa Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Proses pembangunan saat ini sudah dilakukan, yaitu pembangunan fisik berupa dua unit gedung rusunawa berlantai dua. Dengan luas 12 m x 36 m setiap gedung dan mampu menampung sampai 196 mahasiswa. Lagi-lagi pembangunan rusunawa tersebut dapat berjalan mulus atas bantuan Jusuf Kalla.
Rusunawa ini rencananya akan digunakan sebagai ruang kuliah sementara. “Jadi rencananya asrama tersebut akan dijadikan ruang kuliah jika selesai dibangun untuk sementara waktu supaya mahasiswa PDD Bone tidak menumpang lagi di sekolah-sekolah yang ada di sana,” jelas Zubair. Jadi, sekarang mengenai kemandirian PDD Bone hanya sisa memperbaiki komunikasi antara pihak PNUP sebagai pembina, Pemda sebagai penyedia lahan, dan pemerintah pusat agar terjadi keselarasan pemikiran.
Zubair pun mendukung kemandirian PDD Bone sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam bidang akademik. “Harapannya yaitu kita mendukung supaya PDD Bone berdiri sendiri menjadi Politeknik Negeri dan karena PDD Bone merupakan binaan PNUP, jika PDD Bone berdiri sendiri, dapat menunjukkan keberhasilan kinerja PNUP,” jelasnya. [IHA,FIK,AR,NH]

0 komentar: