Wednesday, July 10, 2019

11:33 PM

Penulis:
Sultan Angga Prawira
Menteri Polhukam BEM

Dua dekade setelah era orde baru telah berlalu, dan terlepas dari jeratan otoritas sistem yang otoriter, kini sistem yang kemudian menjel­ma kembali menjadi neo orde baru dan dibungkus dengan kemasan yang lebih sexy dan kerap menga­tasnamakan kemanusiaan. Perebutan demokrasi yang diinisiasi oleh maha­siswa yang biasa kita dengar dengan istilah people power, yang kemudian mampu bermetamorfosis menjadi demokrasi, kedaulatan, dan kebe­basan berpendapat di muka umum.

Mahasiswa merupakan kekuatan intelektualitas masyarakat untuk menuju suatu perubahan. Coba lihatlah apa yang terjadi di Tu­nisia, Mesir, Lybia, dan Siria pada tahun 2010 hingga 2011. Mahasiswa mengambil peranan penting dalam menggulingkan sebuah kekuasaan dan menggantinya dengan sebuah tonggak baru, yang mengedepank­an demokrasi. Mahasiswa memiliki kekuatan energi penuh dengan sifat kreatif, kritis, dan dinamis serta ke­pekaan yang tinggi pada masalah sosial. Mahasiswa yang merupa­kan satu satuan karakter, mampu menjadi satu gerakan besar yang bukan saja memperjuangkan suatu tujuan, namun berupaya membuat sejarah baru dalam sebuah pemba­ngunan masa depan suatu bangsa.

Kira-kira pengantar di atas merupakan hal yang sangat ideal yang sangat berbeda dengan realitas yang ada di lapangan (khususnya lingkun­gan PNUP). Potret kondisi yang se­menjak berlangsung mulai dari saya berstatus maba (kira-kira empat ta­hun lalu), menurut saya mengalami kemerosotan kualitas yang terhitung mulai dari empat tahun yang lalu. Saya berkata seperti ini, tidak serta merta tanpa landasan fakta lapangan. Saya memiliki fakta diantaranya:

Di tahun 2016, setiap pukul16:00 kantin-kantin dan gaze­bo, sudah dipadati mahasiswa yang lelah dengan aktivitas akademiknya dan menghilangkan lelah dengan cara duduk, pesan kopi, tak lupa sebatang rokok yang menempel di tangan. Pembahasannya beragam, mulai dari pembahasan eksistensi Tuhan, klub sepak bola, dan sam­pai pembahasan tindak pidana ko­rupsi kampus dua PNUP. Mungkin kita tidak usah bahas sampai sana, jangan sampai penulis di scorsing atau di drop out karena membahas sembarang. Secara, kampus kita ter­kenal dengan anti kritiknya. Tapi itu dulu, semoga sekarang sudah tidak lagi dengan pemimpin yang baru. Mari kita doakan bersama semoga pemimpin yang baru kita (satu-sat­unya Prof. di PNUP) diberikan kes­ehatan dan tidak otoriter, aamiin. 

Selanjutnya di tahun 2017 saya merasa keganjilan dengan sudah jarangnya gazebo dipakai tempat di­skusi, tapi tidak untuk “kantin” yang senantiasa menjadi pusat semesta mahasiswa PNUP. Apalagi dengan hadirnya “kantin ucok” yang menja­di kantin revolusioner dan menjadi tempat yang melahirkan cikal bakal pemikiran dan orientasi revolusion­er. Kehadiran adik-adik baru, ma­hasiswa 2017 menjadi penyemangat kami bergerak dan terus mema­cu diri agar terus belajar, berharap ada penerus gerakan yang senan­tiasa mengawal isu-isu kampus.

Tapi harapan tersebut sema­kin hari, semakin redup, dikarenakan kebijakan kampus semakin me­nekan, terutama kasus premanisme yang dilakukan oleh pihak keamanan kemarin, yang sampai hati mengan­cam mahasiswa dengan menodong­kan senjata tajam. Belum lagi kebija­kan organisasi dalam hal pencairan dana kemahasiswaan dalam rang­ka penyelenggaraan kegiatan him­punan atau UKM yang sangat ribet.

Ditahun itu juga ada aksi be­sar-besaran aliansi mahasiswa PNUP yang diinisiasi oleh beberapa orang, dengan berbagai tuntutan dan kere­sahan. Aliansi tersebut hadir karena tidak adanya jantung organisasi kam­
pus yaitu BEM. Beberapa tuntutan pun di layangkan, mulai dari trans­paransi anggaran, penolakan militeri­sasi kampus, sampai dengan pengem­balian pengaderan di semester satu. 

Perubahan suasana kampus dalam kurun waktu 2018 sampai sekarang itu sangat berbeda. Atmosfer yang
hadir di dalam kampus tidak ubahnya seperti kuburan dan ka­mar mayat. Suasana yang sangat berubah dalam kampus tersebut ti­dak terlepas dari tanggung jawab dan peran pengurus lembaga. 

Saya mencoba menga­nalogikan lembaga sama halnya den­gan sirkus, jika sirkus tersebut kurang orang yang menyaksikan, itu berarti sirkus tersebut tidak menarik. Nah, sama halnya dengan lembaga kema­hasiswaan yang tidak menarik lagi untuk didatangi. Saya mengambil kesimpulan tersebut dengan melaku­kan kunjungan di beberapa lembaga. Saya melihat beberapa sekretariat lembaga yang seperti kamar mayat. Ada juga lembaga yang sepanjang harinya diisi dengan rapat, dan lem­baga yang diisi dengan orang-orang di dalamnya bermain game online. 

Ada juga satu fenomena yang membuat saya heran, dengan kehadiran alumni di dalam rapat agenda kemahasiswaan. Orientasi penalaran yang seharusnya menja­di perang dialektika di dalam rapat, itu menjadi sebuah penampakan penjajahan intelektual yang dikebi­ri oleh alumni dengan mengarah­kan kesana kemari adik-adik pen­gurus lembaganya. Dan di saat itu saya sadar, ternyata ada otoritas di atas ketua lembaga, yaitu “kakanda”. 

Dari sekian paparan kondisi yang berubah dari tahun ke tahun saya mengambil kesimpulan bahwa mahasiswa PNUP krisis orientasi. Mereka bergerak seakan sibuk dengan segala targe­tan mereka, tapi di sisi lain orien­tasi dari proses mereka di dalam kampus itu bias dan tidak memi­liki substansi dari tujuan mereka berkesibukan.
Tulisan ini dibuat semata-mata han­ya untuk bahan refleksi dan evaluasi diri. Kita mungkin sama-sama resah dengan kondisi kampus yang ada, tapi dengan keresahan yang ada, per­tanyaannya, apa yang kita lakukan? Silahkan jawab dengan terus mengeval­uasi diri, karena “kau akan men­genali dirimu, pada saat kau sendiri” -imam Ali Bin Abi Thalib-

0 komentar: