Friday, February 1, 2019

6:10 PM

PMCC 2018. Suasana di Aula Lt.3 Gedung Administari PNUP saat PMCC 2018 berlangsung. [FK/280]


METANOIAC.id Beberapa hari yang lalu, tepatnya Selasa (29/01/2019), untuk pertama kalinya Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) mengadakan kompetisi game online yang bertajuk PUBG Mobile Campus Championship (PMCC) 2018. 

Melalui halaman web resmi pubgmobile.com, pihak penyelenggara mengatakan bahwa PMCC merupakan sebuah kompetisi E-Sports resmi oleh Tencent Games yang diadakan dengan tujuan untuk mengasah kemampuan para pelajar dalam pertandingan E-Sports dan melihat potensi para mahasiswa untuk melanjutkan karirnya ke jenjang yang lebih tinggi. 

Muhajir Sa’ad selaku ketua panitia PMCC 2018 di PNUP Jurusan Teknik Elektro Program Studi (Prodi) Teknik Multimedia dan Jaringan (TMJ) mengatakan salah satu tujuannya yaitu untuk melahirkan atlet-atlet E-Sports dari PNUP. “Tujuannya yaitu untuk melahirkan atlet-atlet dari kampus PNUP sendiri, karena untuk event-event E-Sports yang mewakili Indonesia di ajang internasional itu kebanyakan dari pulau Jawa, jadi kami juga mau ada atlet-atlet dari PNUP. Makanya di jurusan Elektro prodi TMJ menjalin kerja sama dengan beberapa vendor-vendor dari event E-Sports seperti ini,” jelasnya.

PMCC ini dilaksanakan oleh 40 kampus di seluruh Indonesia dengan 3 tahapan, yakni Campus Qualifier, Regional Qualifier dan Grand Final. PNUP merupakan kampus terakhir yang mengadakan PMCC 2018 pada tahapan Campus Qualifier dengan diikuti oleh 23 tim yang terdiri dari 4 orang dalam satu tim. 

Untuk menentukan tim yang berhak mewakili PNUP ke tahapan Regional Qualifier, setiap tim akan saling bertanding untuk memperebutkan gelar juara dengan cara mengalahkan tim lain dan memenangkan tiap match yang ada sesuai aturan dalam kejuaraan tersebut.

PMCC 2018. Suasana ketika match ketiga selesai dan tim mereka dinyatakan memenangkan match tersebut. [FK/280]

Nawan Baddu salah satu peserta PMCC 2018 di PNUP dari jurusan Teknik Elektro, menyatakan pendapatnya serta harapannya mengenai acara tersebut. “Menurut saya, PMCC 2018 menjadi fasilitas bagi mahasiswa untuk berkompetisi secara positif, mengembangkan skill gaming menuju talenta E-Sports yang berkualitas. Selain itu, selama pertandingan PMCC 2018 yang diadakan di PNUP ini luar biasa menarik, sangat menegangkan karena tahun ini adalah tahun pertama diadakannya turnamen ini dan semoga kedepannya pertandingan E-Sports bermunculan di kampus,” ucapnya.

Namun, walaupun PMCC 2018 di PNUP ini terbilang sukses digelar, acara ini sempat membuat beberapa pihak bertanya-tanya mengapa kompetisi game yang dianggap tidak memiliki nilai edukasi bisa diizinkan oleh pihak kampus.

“Kalau tentang turnamen PUBG sendiri, itu merupakan hal yang tabu untuk kegiatan kemahasiswaan yang diizinkan oleh pihak kampus. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa lazimnya kegiatan di kampus biasanya hanya beberapa hal yang bersifat akademik, seni, olahraga atau kebudayaan. Jadi kegiatan tersebut sangat wajar jika menimbulkan polemik di kalangan sivitas akademika itu sendiri,” tutur Hadi Irawan selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Hadi Irawan juga berharap kepada pihak kampus untuk memikirkan dari segala aspek tentang kegiatan di kampus termasuk kompetisi tersebut, "karena apa yang kita lakukan hari ini niscaya akan berdampak pada hari esok, because tomorrow is today," harapnya.

Selain BEM, ketua II Himpunan Mahasiswa Elektro (HME) juga mengatakan bahwa ia kurang setuju terhadap PMCC 2018 yang diselenggarakan di PNUP.

“Saya kurang setuju dengan dilaksanakannya PMCC kemarin. Menurut saya, kalau masalah game itu boleh, tapi lebih bagus jika kegiatannya bukan main game saja, tapi juga lebih ke arah kompetisi atau penambahan wawasan dari cara membuat game itu karena lebih mengasah daya kreatif mahasiswa dan ada sisi edukasinya,” jelas Khaidir.

Alumni lulusan jurusan Teknik Elektro angkatan 2015, yang tidak ingin disebutkan namanya juga sangat menyayangkan mengapa kompetisi game yang pada 22 Januari 2019, resmi dilarang dimainkan di India ini bisa dengan mudah diizinkan oleh pihak kampus. “Saya agak prihatin sebenarnya, kegiatan yang bernuansa kemahasiswaan dipersulit oleh birokrasi, ketika diadakan kompetisi seperti itu (PMCC) malah dipermudah, bahkan diperlancar kegiatannya,” jelasnya.

Namun, bukan tanpa alasan PMCC 2018 ini diadakan di PNUP, Lidemar Halide selaku pembantu direktur (PD) III mengemukakan alasannya mengizinkan kompetisi tersebut dilaksanakan di PNUP. “Saya pasti menyetujui (PMCC diadakan di PNUP), karena ini program dari prodi TMJ,” jelasnya.

Berdasarkan penjelasan dari Nurhayati selaku dosen prodi TMJ, ada sekitar 6 mata kuliah yang menunjang diadakannya PMCC 2018 di PNUP antara lain, Pemrograman Berorientasi Objek, Dasar Pemrograman Perangkat Bergerak, Pemrograman Sensor Perangkat Bergerak, Proyek Aplikasi Multimedia Bergerak, Praktikum Desain dan Pengembangan Game dan Proyek Game.

Menurut Lidemar, panitia dianggap kurang sosialisasi sehingga banyak pihak bukan hanya dari mahasiswa tapi juga dosen yang protes tentang kompetisi game ini. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa ia sangat setuju terhadap program E-Sports seperti PMCC ini, karena program ini merupakan program yang sudah mulai dilakukan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), program ini juga dianggap dapat membawa nama besar PNUP menjadi lebih tinggi jika para atlet E-Sports dari PNUP yang lahir dari PMCC ini mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Salah seorang yang tergabung dalam kepanitiaan PMCC 2018 di PNUP yang tidak ingin disebutkan namanya, menyatakan pendapatnya mengenai sedikit kekacauan yang terjadi sebelum dan sesudah PMCC berlangsung di PNUP. “Sebenarnya saya tidak menganggap teman-teman lambat, tapi mungkin kurang mengeksplorasi keluar. Di luar Pulau Sulawesi, katakan di Pulau Jawa, orang sudah melangkah lebih jauh dari kita, contoh E-Sports. Sedangkan kita di Sulawesi contohnya di Makassar masih saja ribut. Kapan Makassar bisa go Internasional. Sekarang sudah dunia digital, jika kita masih seperti ini, saya yakin kita akan kalah,” tuturnya.

PMCC 2018. Keseriusan peserta dalam menyelesaikan pertandingan. [FK/280]

Selain itu, Tencent Games, Nayla yang diutus dari pusat untuk mengkoordinir PMCC 2018 di PNUP mengungkapkan harapannya mengenai acara tersebut. “Jadi, kita itu sebenarnya ingin ada edukasi. Kita ingin membuka pandangan orang-orang termasuk orang tua, dosen, dan lain-lain kenapa kita bikin event ini di kampus. Tidak selamanya main game itu buruk," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa dengan adanya turnamen ini, bisa menunjukkan bakat mereka, bisa menang, bisa mewakili institusi, bisa membawa nama besar institusi ke tingkat yang lebih atas. Jadi selama games ini diarahkan dengan benar, kami selaku vendor yakin kalau game ini tidak selalu buruk.

Tak dapat dipungkiri, di zaman serba digital saat ini, memainkan game pun bisa mengharumkan nama kampus serta nama negara di level internasional, bahkan bermain game juga sudah menjadi sebuah profesi di beberapa perusahaan games yang ada.[FK/280]

0 komentar: