Tuesday, January 1, 2019

12:48 PM
Selamat tahun baru 2019. [Sumber: sejarahri.com]

METANOIAC.id Tahun baru adalah suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru, begitupun dengan tahun baru Masehi.

Tahun baru pada umumnya dijadikan ajang membentuk pribadi yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Bahkan hampir semua orang akan membuat resolusi untuk kehidupan di tahun berikutnya.

"Tahun Baru ada di sebelah kita, seperti bab dalam buku yang menunggu untuk ditulis. Kita dapat menulisnya dengan menetapkan sebuah tujuan.” Tutur Melody Beatti, penulis buku Amerika Self-help.

Segala kejadian tidak lepas dari sejarah, begitupun tahun baru.

Dilansir dari Wikipedia, sejarah tahun baru masehi pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 Sebelum Masehi (SM). Tidak lama setelah Julius Caesar, seorang politikus dan pemimpin militer Romawi dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM.

Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.

Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM, sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoretis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini.

Tidak lama sebelum Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, dia mengubah nama bulan Quintilis dengan namanya, yaitu Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.

Saat Kalender Julian diterapkan memang belum memasuki tahun Masehi. Tahun Masehi dihitung sejak kelahiran Yesus (Isa Al-Masih) dari Nazaret yang mulai diadopsi di Eropa Barat pada abad ke-8 untuk menghitung tanggal Paskah berdasarkan tahun pendirian Roma. 

Kalender Julian kemudian dimodifikasi menjadi Kalender Gregorian dan disetujui oleh pemimpin tertinggi umat Katolik di Vatikan, Paus Gregory XIII, pada 1582. Di tahun yang sama, Paus menetapkan 1 Januari sebagai tahun baru pertama.

Sejak saat itu, setiap malam pergantian tahun baru kerap dirayakan dengan meriah di seluruh belahan dunia. Mulai dari menghitung mundur 10 detik terakhir menuju tahun baru, meniup terompet, hingga menyalakan petasan.

Dalam rangka menyambut tahun baru 2019, perayaan tahun baru di Makassar digelar dengan zikir dan doa bersama untuk meminta perlindungan dari marabahaya dan bencana. Selain itu, hadirin juga mendoakan warga Banten-Lampung yang menjadi korban tsunami, termasuk melakukan aksi penggalangan dana.

”Kita gelar zikir dan doa sebagai wujud syukur saja. Tidak ada pesta kembang api digelar, mungkin hanya atraksi air dari damkar (pemadam kebakaran),” tutur Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto. (Dikutip dari detik.com)

Mari menjadikan tahun baru 2019 sebagai momentum untuk menjadi lebih baik lagi. Terus produktif!!! [IHA/276]

0 komentar: