Monday, January 8, 2018

11:16 AM

Erin Gruwell bersama Marcus



METANOIAC.id Dalam buku Sekolah Itu Candu, Roem Topatimaseng menyampaikan setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap buku adalah ilmu. Kita bisa belajar dimana saja, belajar pada siapa saja, dan mendapat ilmu di buku apa saja. Kira-kira seperti itulah yang coba digambarkan oleh Erin Gruwell dalam film Freedom Writer. Kisah bagaimana ia mendedikasikan hidupnya demi sebuah sistem pendidikan yang menyenangkan.
----------

Adalah Erin Gruwell, seseorang pengajar muda yang mencoba untuk mendapat pengalaman mengajar dengan menangani kelas freshman bahasa inggris untuk pertama kali. Meski tampak begitu bersemangat, keinginannya untuk hal tersebut diragukan oleh banyak pihak di sekolah dikarenkan jam terbangnya dalam memfasilitasi sebuah kelas masih sangat minim. 

Keraguan terhadap Erin dalam memfasilitasi kelas muncul dari berbagai pihak. Pihak sekolah, Pihak Keluarga, bahkan hal tersebut juga dipandang oleh siswanya di hari pertama ia mengajar. Hal tersebut tergambar pada hari pertama Erin di kelas yang dipandang tidak menarik oleh siswanya. 

Siswa-siswa Erin sendiri berasal dari suku dan ras yang berbeda, masing-masing memiliki latar belakang berbeda pula. Tiap murid duduk di kelas berdasarkan ras. Hari-hari pertama Erin dalam kelas juga dipenuhi oleh situasi ketegangan, masing-masing siswa sering terbawa suasana perpecahan. Perang antar ras pun masih sering terjadi dalam sekolah.

Para murid ingin belajar bagaimana memperlakukan hidupnya
Pada suatu pertemuan, Erin mengecewakan perilaku muridnya yang saat itu mengejek Jamal atas rasnya. Erin kemudian menceritakan tentang tragedi Holocaust. Ia menjelaskan dalam peristiwa tersebut, bagaimana semua orang berharap agar orang-orang Yahudi dan ras kulit hitam semestinya mati atas perlakuan mereka. 

Hal tersebut sontak dibantah oleh Marcus, salah seorang murid Erin. Mereka kemudian kecewa atas representatif peristiwa Holocaust yang dijelaskan Erin seolah-olah juga menyalahkan kehidupan mereka yang saat ini dalam pertikaian. 

“Kau tak tahu penderitaan dan apa yang kami hadapi. Kami belajar grammar sialan ini di sini dan kemudian harus kembali ke sana--pertikaian ras yang lebih besar. Apakah yang kau ajarkan ini akan membuat perubahan dalam hidupku?,” ucap Eva.

Sekolah mengabaikan kebutuhan murid
Erin ingin tau lebih jauh tentang muridnya. Ia kemudian mencoba membantu para murid untuk mengenali situasi yang sedang mereka hadapi. Erin ingin mengajak muridnya membaca buku The Diary of Anne Frank yang menjelaskan bagaimana penulis menghadapi persoalan seperti yang dihadapi oleh muridnya.

Ketika Erin mencoba meminjam beberapa buku Anne Frank di perpustakaan. Pihak sekolah tidak mengapresiasi keinginannya. Pihak sekolah beranggapan anak yang hanya membuat kekacauan dan memiliki nilai membaca yang buruk hanya akan merusak buku tersebut, mencoret-coretinya. Mereka merasa hal ini tidak akan bermanfaat, akan lebih baik membuat buku tersebut terjaga di rak-rak perpustakaan.

Hal ini menggambarkan bagaimana sebuah sekolah mulai mengabaikan kebutuhan-kebutuhan murid. Sekolah tidak peduli mengapresiasi cara Erin memfasilitasi kelasnya, terutama kepada murid yang memiliki masalah dalam proses belajar.

Erin mulai mengenal siapa muridnya
Erin mulai penasaran apa yang sedang dihadapi oleh tiap-tiap siswanya. Ia mulai melakukan pendekatan dengan cara-cara yang menarik. Erin membuat The Line Games, bermain dengan pertanyaan. Erin menanyakan beberapa hal mengenai kondisi muridnya yang perlu ia ketahui dan murid hanya perlu menuju garis yang telah Erin buat menggunakan plaster jika kondisi tersebut benar.

Erin saat itu tau, murid-muridnya adalah anggota genk. Mereka punya teman yang telah masuk penjara, mereka juga tau dimana mendapatkan narkoba. Erin akhirnya tau, murid-muridnya telah kehilangan teman dan orang-orang tersayang karena kekerasan pertikaian genk.

Belajar itu menyenangkan
Erin menemukan kegagalan pada  sistem Program Voluntary Integration yang dibuat oleh Dr. Cohn sebagai Dewan Pendidikan. Ia mulai mempertanyakan banyak hal mengenai tujuan dari pendidikan itu sendiri. 

Erin memilih jalannya sendiri. Ia mengupayakan untuk membeli buku yang dekat dengan kehidupan murid-muridnya menggunakan uang pribadinya. Erin juga mengupayakan sebuah study tour yang mengajak muridnya belajar ke sebuah musium toleransi. Erin ingin muridnya tau, ada orang-orang yang mengalami hal yang lebih rumit dari persoalan yang dialami oleh murid-muridnya. 

Tidak hanya belajar tentang kosakata, grammar, menulis, dan sajak, Erin juga mengajak muridnya belajar memaknai hidup para murid. Ia mengajak muridnya melawan segala kekhawatiran mereka dan menanggalkan setiap suara yang mengatakan mereka tidak bisa dalam sebuah permainan toast for change. Menjadi diri sendiri.

Murid-murid Erin berbagi cerita, saling menginspirasi satu sama lain dan menjadi lebih baik. Ketegangan yang membawahi mereka akhirnya diredam dengan keakraban satu sama lain. 

Erin dan pengorbanan
Dengan segala yang Erin jalani, ia tetap mendapat pertentangan demi pertentangan. Tidak hanya dari pihak sekolah, ia juga mendapat pertentangan dari suaminya sendiri. Sang suami akhirnya meninggalkan Erin yang mengorbankan lebih banyak waktu ke sekolah dibanding dirinya. 

Meski dengan segala keterpurukan Erin di akhir film, semua orang akhirnya iri dengan apa yang telah dilakukannya. Dengan berbagai alasan Erin terus mendukung segala kebutuhan muridnya dalam belajar. 

Erin membuat sebuah project diakhir film yang ditujukan untuk muridnya. Mereka mengumpulkan catatan harian yang telah dibuat masing-masing. Mereka membuat sebuah buku, sebuah kisah yang menggambarkan diri masing-masing. The Freedom Writers Diary

Sebagian besar dari murid Erin adalah orang yang pertama lulus dikeluarganya dari bangku SMA dan melanjutkan kuliah. Erin Gruwell dan freedom writers mendirikan Yayasan The Freedom Writer untuk mengulang kesuksesan kelasnya diseluruh negeri. (YOO/246)

*sumber gambar : www.goodnet.org/articles/7-teachers-from-movies-who-weve-come-to-know-love

0 komentar: