Wednesday, January 24, 2018

6:30 AM
 Monumen Maha Putera Emmy Saelan (jurnaltoddopuli.wordpress.com/Andriani S. Kusni)
Alm. Emmy Saelan, Sang Pejuang Wanita dan Pahlawan Nasional Indonesia

METANOIAC.id Banyak cara dilakukan untuk mengenang orang-orang yang berpengaruh, tak lain untuk menghargai jasa-jasa mereka. Seperti para pahlawan tanah air yang berjuang keras dan mengorbankan segalanya untuk merebut maupun mempertahankan kemerdekaan.

Mengitari Kota Makassar kurang lebih seluas 175.77 km2, banyak dijumpai nama pahlawan yang diabadikan menjadi nama jalan bahkan nama suatu perguruan tinggi. Salah satu yang menarik, saat melalui Jl. Letjen Hertasning, terdapat Monumen Maha Putera Emmy Saelan yang mengingatkan pada kisah perjuangan seorang perempuan di tanah Makassar.

Ialah Emmy Saelan, seorang perawat yang memiliki kebencian terhadap pasukan Belanda. Ia terlahir dari ayah yang mengerti tentang pendidikan dan sempat bersekolah di SMP Nasional. SMP Nasional merupakan sekolah pertama yang didirikan pemerintah pasca kemerdekaan 1945 di Makassar.

Dari sekolah tersebut, Wolter Monginsidi bersama pejuang lainnya (termasuk Emmy Saelan) membentuk organisasi Gerilya “Harimau Indonesia”. Perkumpulan ini dikenal sebagai pengganggu oleh penjajah Belanda. 

Pemberontakan sering dilakukan oleh Emmy Saelan, terlebih ketika ia bekerja di rumah sakit Stella Maris milik Belanda. Ia sering kali membantu para tawanan dari segi medis maupun membantu mereka melarikan diri. Ketika itu, ia dipindahkan ke rumah sakit lain namun Emmy tak nyaman. Maka ia memutuskan untuk berhenti dan menjadi seorang yang yang melawan Belanda secara nyata.

Sebelum bergabung dengan Laskar Harimau, Emmy pernah bergabung dengan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). LAPRIS dikomandoi oleh Ranggong Daeng Romo. Setelah itu Emmy bergabung dengan Harimau Indonesia. Perampasan senjata, pelucutan, hingga penyergapan pasukan Belanda sering digencarkan oleh Laskar Harimau.

Bagi Belanda, perlawanan seperti ini sangat mengancam kedudukan mereka. Maka dari itu, Belanda mendatangkan pasukan lagi yang dipimpin oleh Westerling yang dikenal sangat kejam. Berbagai strategi yang dilakukan Westerling membuat para pejuang Harimau Indonesia terdesak.

Suatu malam, pasukan Monginsidi dan Emmy Saelan berpisah akibat kepungan Belanda. Saat itu Emmy memimpin kurang lebih empat puluh orang dengan senjata seadanya. Semangatnya tak surut meski dipaksa mundur oleh Belanda. Sampai akhir, ia tetap melawan meski pasukannya berguguran menyisakan dirinya. Dengan granat tersisa di tangan, ia melemparkannya ke pasukan Belanda. Namun saat itu  ia juga ikut gugur bersama pasukan Belanda.

Dilansir dari berdikarionline.com, Emmy gugur pada tanggal 23 Januari 1947. Untuk menghargai dan mengenangnya, dibangun Monumen Maha Putera Emmy Saelan tepat di tempat gugurnya. Namanya diabadikan pula sebagai nama jalan di Makassar dan beberapa daerah kabupaten di Sulawesi Selatan. [TUT/261]

0 comments: