Sabtu, 17 Desember 2016


Sebuah pajangan berlatar warna merah gelap, ukurannya terbilang besar untuk sebuah poster, dibingkai begitu rapi dan dilapisi kaca. Kesan yang muncul ketika baru pertama kali melihatnya adalah “cukup mewah.” Pajangan tersebut terletak di lantai 1 Gedung AD yang notabenenya merupakan Direktorat PNUP, akan dengan mudah ditemukan ketika kita masuk lewat pintu depan kemudian belok kanan, tepat di dinding sebelah kanan.

Jika hanya dinarasikan lewat huruf, mungkin tidak ada yang ingat bahwa di areal tersebut terdapat pajangan berisi targetan singkat yang ingin dicapai oleh Kampus Hitam selama satu tahun, tentunya dengan berbagai pertimbangan sebelumnya. Maka jika awam mengenai hal tersebut kita harusnya ke sana dan menengoknya, judulnya adalah Sasaran Mutu.

Awal-awal peliputan berjalan, awak Metanoiac sempat berfikir untuk tidak usah muluk-muluk mempertanyakan tentang isi dari sasaran mutu tersebut, karena beberapa pihak termaksud dari pihak birokrasi yang ditemui juga masih sedikit awam dengan istilah sasaran mutu. Padahal jika ditinjau dari penempatan dan bentuknya, menandakan bahwa itu merupakan sesuatu yang cukup penting untuk dibaca bagi siapapun yang mengaku bagian dari civitas PNUP.

Dan sesuai dugaan Redaksi, pembahasan tentang sasaran mutu akan dibarengi dengan banyaknya pernyataan yang offside

Dan sesuai dugaan Redaksi, pembahasan tentang sasaran mutu akan dibarengi dengan banyaknya pernyataan yang offside. Bahkan ada yang mempertanyakan dari mana hal tersebut didapatkan. Baik, kita masih harus memaklumi jika ternyata ada yang lupa-lupa ingat, makanya lembaran yang berisikan sabda-sabda targetan tersebut digenggam terus dalam tiap peliputan.

Selain untuk menghindari linglung dan silent moment bagaikan Mannequin Challenge dengan durasi yang berpotensi sama dengan iklan sinetron India, dibawanya lembaran tersebut juga merupakan bentuk pengumpulan data dalam konteks “persentase ketercapaian” dari berbagai informan yang kompeten dan berkapasitas untuk memberikan data. Meskipun pada akhirnya kebanyakan hanyalah sebuah kisaran, alasan umumnya adalah belum selesai direkap dan data belum masuk. Ok, bukan masalah.

Selanjutnya, mari sama-sama lupakan keterlupaan kita. Lanjut ke bahasannya; evaluasi. Sasaran mutu pada idealnya merupakan landasan untuk mencapai peningkatan, terbagai atas dua bidang yaitu Akademik serta Organisasi, Sumber Daya dan Pencitraan Institusi.

Takar menakar kualitas di suatu institusi pendidikan pada dasarnya bukan cuman soal akreditasi. Pun begitu, Sasaran Mutu PNUP 2016 memang memuat poin khusus tentang akreditasi dengan bunyi; Peningkatan nilai akreditasi Program Studi dari 11 terakreditasi B menjadi 13 dan 2 Program Studi terakreditasi A.

Contoh isi lainnya dari sasaran mutu, seperti jumlah alumni yang lulus tepat waktu diharapkan mengalami peningkatan dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK ) IPK ≤ 3,20 dari 85% menjadi 90%. Mengacu pada poin tersebut, sudah bisa dijelaskan bahwa untuk mecapai sasaran mutu tidak akan mungkin terwujud melalui satu kamar, satu pihak dan satu sisi saja.
Pertanyaannya kemudian, sampai dimana pengetahuan mereka akan sasaran mutu?

Karena mesti diwujudkan bersama, jadi poin-poin sasaran mutu tersebut tidak akan bisa luput dari partisipasi dosen dan mahasiswa. Pertanyaannya kemudian, sampai dimana pengetahuan mereka akan sasaran mutu? Agaknya kita mesti kembali ke salah satu kalimat pada paragraf di atas; tidak usah muluk-muluk mempertanyakan tentang isi dari sasaran mutu tersebut.

Menurut Redaksi Metanoiac sendiri jika mengacu pada kondisi saat peliputan, bahasan tentang evaluasi sasaran mutu bukanlah bahasan panjang. Dimana selanjutnya menjadi hal yang unik, karena niat evaluasi malah kami pikir jadi bagian dari sosialisasi dan/atau reminder.

Dan harap maklumi jika Opini Redaksi kali ini kembali nyeleneh, karena membahas sesuatu yang harusnya jadi evaluasi malah jadi sosialisasi itu sudah nyeleneh tingkat Dewa. Lantas tidak usah peduli pada paragraf ini, pedulilah pada paragraf selanjutnya.

Untuk sasaran mutu 2017 sudah ada proyeksinya kah? Atau masih sibuk merekap sasaran mutu 2016? Atau sudah tidak peduli lagi karena sertifikat ISO 9001:2015 mesti digarap berdarah-darah untuk bisa menggenggamnya? Ataukah sasaran mutu hanya sekedar formalitas demi sebuah sertifikat ISO 9001? Rasanya tidak perlu jawaban dari pertanyaan tidak penting tersebut kan?.
Maka sebelum asahan Orasi yang tanpa klimaks ini diakhiri, baiknya kita sama-sama mengetik sasaran mutu adalah di Google dan tekan enter. Kemudian sama-sama membaca untuk menambah wawasan kita, bukankah salah satu prinsip penyusuanannya adalah measurable (harus bisa diukur). Dan sudah seperti seharusnya, kami harus kembali memohon maaf atas ketidak jelasan Orasi yang absurd ini. (WIK240/AA233)

Opini Redaksi (Orasi) ini pernah dimuat dalam Buletin METANOIAC Edisi 70 dengan Fokus Evaluasi Sasaran Mutu 2016


0 komentar: