Tuesday, November 8, 2016

3:11 AM
Proses belajar mengajar mungkin segera dilangsungkan, mahasiswa lebih dulu masuk ruangan untuk menunggu dosen. Beberapa mahasiswi mulai mengibaskan kipas, bak ibu-ibu yang menghadiri wisudahan anaknya. Sedang lainnya berusaha membuka lebar-lebar daun pintu dan jendela yang tertutup rapat agar udara dengan leluasa masuk. Intinya mereka kepanasan, AC mati dan remotnya rusak.

Sambil disemangati mahasiswi, seorang mahasiswa memanjat dan berhasil menjangkau tombol power namun AC tidak jua menyala, bisa dipastikan bahwa AC-nya rusak. Keluhan semakin buas mengelilingi seisi ruangan. Namun tiba-tiba gaduh kepanasan terhenti dengan masuknya seorang dosen ke dalam ruangan.

Dosen lantas membuka laptop, menyambungkan kabel HDMI dari proyektor yang ternyata juga rusak. Akibatnya, seorang –ketua kelas─ sebagai pembantu umum harus turun dari lantai 3 menuju lantai 1 untuk mengambil proyektor beserta kabel cadangan. Pembantu umum kembali dengan membawa tentengan berupa satu-satunya proyektor cadangan yang tersisa.

Dengan penuh keringat, sang ketua kelas pun memasang set proyektor dan ketika telah nyala malah warna yang muncul bukan warna putih tapi kuning buram, mirip televisi hitam putih yang lensanya rusak. Tanpa berkata apa-apa lagi, dipimpin oleh dosen, hampir seisi kelas menghembuskan nafas panjang sebagai tanda keluhan massal.

Prolog di atas dekat, mirip dan identik dengan cerita singkat yang mungkin pernah dialami oleh hampir semua kelas. Parahnya cerita itu ada di politeknik terbaik yang ada di Indonesia Timur. Memang benar ibarat bom waktu, mahasiswa bertambah namun sarana stagnan, yang bertambah adalah umur dari alat-alat yang menunggu untuk digilas waktu dengan bertambahnya mahasiswa.

Fasilitas berkaitan erat dengan kenyamanan, sedang diakui atau tidak kenyamanan memiliki andil besar dalam keefektifan proses belajar mengajar, dalam hal ini baik formal maupun non formal. Suasana tidak kondusif dalam ruangan memang disebabkan oleh tingkah orang-orang yang sedang menjalani proses belajar mengajar, namun pada akhirnya orang-orang yang merasa tidak nyaman tersebut disebakan oleh kondisi ruangan itu sendiri.

Masalah kemudian muncul lagi, ruangan yang kadang dirasa kurang nyaman malah tidak didapatkan. Ada tabrakan calon pengguna yang sama-sama menginginkan ruangan yang sama, misalnya sama-sama menginginkan salah satu ruangan yang ada di lantai 1 Gedung Sekolah (GS) agar tidak ngos-ngosan naik ke lantai 3, atau sama-sama menginginkan ruangan yang AC-nya masih bagus. Tanpa peduli lagi jadwal penempatan yang telah diatur.

Berdasar hal di atas maka diakui atau tidak, mahasiswa seolah diajarkan dan bertingkah dalam sistem kehidupan rimba, kembali ke zaman batu; siapa cepat dia dapat. Salah satu fakta lapangan yang muncul adalah kelas yang direbut ruangannya harus merelakan untuk tidak masuk sesuai jadwal dengan melakukan kelas pergantian. Katanya dispilin!

Perlunya Kesadaran
Aksi ‘semi-vandalisme’ yang membuat bangku dan meja penuh coretan, laci meja berisi sampah merupakan pemandangan yang wajar ditemui pada Gedung Sekolah dan ruang belajar pada masing-masing jurusan. Tinggal menunggu dindingnya juga penuh coretan, jadinya akan mirip suasana kelas gangster sekolah dalam film Taiwan Our Times. Bedanya dalam film itu dilakukan oleh siswa SMA, kalau di PNUP itu dilakukan oleh mahasiswa, kita pun tidak perlu bertanya mana yang lebih parah.

Dan sudah seharusnya, tidak boleh ada yang menginginkan kenyamanan namun tidak menjaga kebersihan sebagai bagian dari ketertiban. Tertib akhirnya menjadi solusi, jika saja penggunaan GS dilakukan dengan tertib, tidak akan ada rebut-merebut ruangan. Jika saja tertib sesuai prosedur dalam menggunakan proyektor LCD, kerusakan bisa diminimalisir. Jika saja perawatan fasilitas dilakukan tertib dan sesuai prosedur, umur pakainya akan lebih lama.

Tapi kita juga tidak boleh terlalu jauh ‘berjika-jika’ atau berandai-andai, karena untuk tertib kita tidak harus jauh melanglang buana mencarinya, cukup bangun kesadaran. Jika tertib menjadi solusi maka sadar menjadi kunci.

Dan tidak usah ada epilog bertele-tele jika cerita tentang ─keluhan─ fasilitas sudah dibangun di atas kesadaran. Semua akan nyata, muncul dalam kata perbaikan dan perubahan. Kita sebagai para civitas akademika yang terhormat pun akan dibuai dalam kata nyaman.
Mari sama-sama wujudkan budaya ilusi tercipta nyata di PNUP, budaya tertib.

Karena politeknik berbasis vokasi maka politeknik harus dinamis dalam segala hal termaksud fasilitas, namun tidak sekedar mengikuti zaman tanpa jaminan kualitas. Mari sama-sama wujudkan budaya ilusi tercipta nyata di PNUP, budaya tertib. (AA/233)

Opini Redaksi (Orasi) ini pernah dimuat dalam Buletin METANOIAC Edisi 69 dengan Fokus Mahasiswa: Perbaiki Fasilitas Kampus!














0 comments: