Tuesday, May 10, 2016

9:31 PM
Gambar (via) https://www.cartoonmovement.com/cartoon/8978
Vatikan pada musim dingin yang menggigit saat ribuan orang berkumpul dari seluruh penjuru angin. Mereka berkumpul di satu tempat tersuci umat katolik, Basilika St. Petrus. Tak lama berselang, sebuah keranda ditandu keluar dari Basilika St. Petrus oleh beberapa uskup. Didalamya Paus, pemimpin umat katolik seluruh dunia sudah dalam keadaan kaku, wajahnya memucat. Sebuah penyakit kronis telah merenggut nyawanya. Gereja terpukul, umat katolik tak hentinya mengeluarkan air mata dihadapanpemimpinnya dan para kardinal bersiap untuk konklaf.

Sede Vacante, atau kekosongan kepemimpinan tahta suci pun terjadi, para kardinal berkumpul pada satu ruangan untuk melakukan konklaf atau penghitungan suara untuk paus yang baru. Sayangnya, satu persatu kardinal diculik, konklaf pun tak bisa berjalan. Para uskup tak bisa memilih dan mereka pun harus menunggu kejelasan tentang calon uskup yang menjadi kandidat Paus.


Dan Brown, novelis asal Amerika menceritakan dengan baik tentang kepausan pada 656 halaman novelnya yang berjudul Angels and Demon, dan selama 146 menit film dari Ron Howard seperti membuatnya semakin nyata, membawa kita kedalam ketegangan yang dirasa Dr. Langdon.

Sementara itu, jauh dari Vatikan, November 2015 sebuah forum musyawarah dibentuk untuk mencari nama-nama calon pemimpin. Dalam waktu 48 Jam yang tidak efektif, teriakan-teriakan terdengar dari sebuah ruangan berukuran luas, namun tak cukup untuk menarik nyawa karena kepulan asap dari berbagai merk tembakau. Puluhan mahasiswa dari berbagai latar belakang berkumpul untuk mencoba menyulam asa.

Namun, apa mau dikata, dihari kedua, forum terlambat digelar selama tiga jam. Dalam tiga jam itu pula panitia bekerja keras mendatangkan kembali para peserta. Sebab, jika tidak semuanya bakal berhenti di tengah jalan.

Setelah kembali berlanjut, forum pun kembali dihentikan. Namun, kali ini pada waktu yang tidak lagi ditentukan. Bahkan hingga April 2016 kejelasan akan kelanjutan forum tertinggi mahasiswa tersebut pun masih menjadi misteri.

Nada pesimis pun datang dari berbagai kalangan, ada yang menilai keberadaan pemimpin dalam lembaga eksekutif maupun legislatif tak terasa hingga ke kalangan mahasiswa. Bahkan tak jarang ada yang merasa jika keberadaanya hanyalah sekedar status dan kedudukan semata tanpa memiliki pengaruh di tengah-tengah dunia kampus. Padahal, seharusnya lembaga mahasiswa menjadi garda terdepan dalam penyaluran aspirasi.

Bahkan, suara sumbang lainnya menyebut jika badan eksekutif tersebut tak ubahnya seperti event organizer yang hanya menyelenggarakan seminar-seminar. Sistem kaderisasi pun tak luput dari kritikan. Kaderisasi yang biasanya dilakukan badan eksekutif kepada mahasiswa baru nampak tak lagi efektif.

“BEM saat ini itu diibaratkan sebagai pena, jika tidak pernah digunakan akan tumpul dan hanya menjadi pajangan di saku” -Himas Hakim-
“BEM saat ini itu diibaratkan sebagai pena, jika tidak pernah digunakan akan tumpul dan hanya menjadi pajangan di saku,” Himas Hakim. Jika kalimat diatas memang benar, bayangkan sudah seberapa tumpul lembaga ini. Berbulan-bulan tanpa aksi dan hanya berkutat di permasalahan itu-itu saja, semakin hari semakin tumpul.

Kekosongan Jabatan 

Dalam novel yang dikisahkan Dan Brown, posisi Paus sempat kosong dalam waktu 24 jam yang paling menegangkan sepanjang sejarah kepausan. Satu persatu kardinal diculik dan dibunuh, hingga menyisakan satu orang terakhir yang akhirnya terpilih menjadi Paus di akhir cerita. Bayangkan, dalam situasi kekosongan jabatan selama 24 jam yang penuh ketegangan tersebut, semua umat katolik dari penjuru dunia berkumpul dengan perasaan cemas untuk menunggu pemimpin mereka yang baru. Dalam sejarahnya, jabatan kepausan pernah kosong hingga 63 hari dari 1 desember 1830 sampai 2 februari 1831.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudah kosong selama berbulan dan hanya diisi oleh presidum yang sejatinya hanya memiliki tanggung jawab dalam pembentukan tim kepanitiaan pemilihan, lalu sudah berapa banyak waktu yang dilewatkan hanya dengan diskusi yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat? Masih sehatkah kondisi berlembaga kita saat ini? Apakah badan eksekutif yang katanya memiliki otonomi sendiri masih terus harus berada di bawah bayang bayang birokrasi?

Kembali duduk bersama dengan pemangku kepentingan yang terkait dengan pembentukan kembali lembaga Badan Eksekutif Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa memang perlu untuk kembali dilakukan, namun apakah kita hanya akan terus berkutat pada disskusi tanpa aksi?

Vatikan dengan berbagai drama melalui kisah yang diceritakan Dan Brown dapat menyatukan suara : memilih pemimpin diantara mereka, sementara kita dengan sekelumit cerita masih terkatung-kata pada siapa nama kandidat yang akan tertulis di kertas suara.
(Al Fath/206)

Opini Redaksi (Orasi) ini pernah dimuat dalam Buletin METANOIAC Edisi 68 dengan Fokus Apa Kabar BEM?

0 comments: